TORONTO – Kebijakan imigrasi presiden AS, Donald Trump akhirnya memakan korban. Dua pencari suaka asal Somalia harus kehilangan semua jarinya karena kedinginan. Mereka menembus cuaca dingin yang ekstrem, melintasi perbatasan AS menuju Kanada.
Kedua pria itu bernama Hussein Ahmed dan Mohamed Hossain. Mereka menerobos salju yang hampir menutupi tubuh mereka. Perjuangan berbahaya itu mereka tempuh demi menyelamatkan diri dari “Trump“.
“Kadang-kadang kami merangkak, itu mengerikan. Saya berpikir tidak akan bertahan,” kata Ahmed, menceritakan perjalanannya.
Kedua pria ini adalah bagian dari lima warga Somalia yang menyeberang secara ilegal melalui Meksiko ke Amerika Serikat untuk mencari suaka. Kini mereka harus melintasi perbatasan kembali untuk mencari suaka lagi.
Sejak kampanye pemilihan presiden lalu, Trump sudah menyebar ancaman. Tak lama setelah dilantik, ia menandatangani perintah eksekutif pembatasan sementara untuk pengungsi dan wisatawan dari sejumlah negara berpenduduk mayoritas Muslim.
Pengungsi dan pencari suaka yang sudah masuk ke Amerika, terutama secara illegal, mulai dilanda kekhawatiran. Mereka pun berusaha kabur seperti yang dilakukan Hussein dan Mohammed. Bahkan mereka rela merogoh kocek sebesar US$ 300 untuk membayar orang yang mengantarkan mereka mendekati perbatasan. Mereka harus menghindari pemeriksaan petugas jika tidak ingin dijebloskan ke penjara.
Sampai di dekat perbatasan, mereka diarahkan untuk berjalan di antara wilayah North Dakota, Mennesota dan Manitoba. Namun, setelah berjalan 30 menit mereka kehilangan arah. “Kami berjalan sepanjang hari, kami benar-benar kehilangan arah,” kata Hossain.
Pada satu titik, mereka berpikir akan mati di tempat itu. Pasalnya, mereka belum pernah merasakan salju di negara asal, apalagi berjalan bermil-mil jauhnya.
“Hampir saja tertelan salju,” kata Ahmed.
Harapan itu muncul ketika lampu di perbatasan Kanda mereka temukan. Petugas perbatasan pun menghubungi 911, dan Kepolisian Kanada menjemput mereka bersama tim medis.
Hussein dan Mohammed melarikan diri dari Somalia karena ancaman Al Shabab. Latar belakang dari etnis minoritas juga membuat mereka terancam.




