spot_img

Lagi, kekerasan di sekolah, menterinya ke mana?

DUNIA pendidikan di negeri ini tak henti-hentinya dirundung duka akibat aksi-aksi perundungan dan kekerasan, bahkan sampai hilangnya nyawa seperti dialami  RWK (13), pelajar SMPN Batu, Malang, Jawa Timur yang dikeroyok lima rekan sekelasnya.

Brutalnya aksi lima siswa sekelas dengan korban yang dilakukan di kawasan Vila Holanda, Songgokerto, Malang pada Rabu siang (29/5) divideokan oleh para pelaku, lalu disebarkan melalui medsos.

Korban, RWK, siswa kelas 7 B yang juga memiliki saudara kembar,  RS di sekolah sama tetapi di kelas 7C, setelah penganiayaan itu mengaku merasakan sakit di bagian kepala tapi tidak pernah menceritakan pada siapa pun, kecuali kepada saudara kembarnya.

RWK dilarika ke RS Hasta Brata Jumat pagi (31/5) karena menderita sakit kepala akut dan dinyatakan meninggal siangpukul 10.30 waktu setempat hari yang  sama,  diduga akibat pendarahan di kepala disebabkan pukulan di bagian kepalanya.

Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Aris Adi Leksono mengungkapkan, kekerasan terhadap anak  sejak awal sampai Maret 2024 tercatat 141 kasus, 35 persen terjadi di lingkungan sekolah atau satuan pendidikan.

Aris menuturkan, hasil pengawasan menunjukkan kekerasan pada anak di satuan pendidikan cenderung dilakukan secara berkelompok. akibat lemahnya deteksi dini (oleh guru, wali kelas atau kepala sekolah) terhadap lingkar pergaulan yang berpengaruh negatif.

Kekerasan anak di satuan pendidikan menyebabkan kesakitan fisik dan psikis, trauma berkepanjangan, hingga kematian atau anak mengakhiri hidup,” ujar Aris .

Sebegitu banyak kejadian, sejauh ini belum direspons oleh jajaran kemendikbud termasuk menterinya untuk mengupayakan pencegahan dan pengawasan secara sistematis dan terstruktur agar kejadian serupa tak terulang lagi.

Ungkapan empati atau duka dari pejabat kemendikbud termasuk menterinya pada keluarga korban korban kekerasan di lingkup pendidikan,  sejauh ini juga tidak tampak dilakukan.

Pelecehan, perundungan atau kekerasan lainnya, apalagi sampai menyebabkan hilangnya nyawa semestinya juga diusut mulai dari petugas keamanan sekolah, guru-guru, kepala sekolah yang bertanggungjawab terhadap murid-murid di lingkup satuan pendidikan.

Sepanjang awal 2024 sampai Maret, KPAI juga mencatat, 46 kasus anak mengakhiri hidup dan hampir separuhnya (48 persen)  terjadi lingkup satuan pendidikan atau korban masih mengenakan pakaian seragam sekolah.

“Hal ini harus disikapi serius, dengan bergerak serentak mengakhiri kekerasan di satuan pendidikan,” kata Komisioner KPAI itu.

Para pemangku kepentingan pendidikan seharusnya melihat dari perspektif luas, berusaha mencegah agar kejadian di suatu tempat tidak terjadi lagi di tempat lain, tidak hanya menjadi “pemadam kebakaran”, apalagi bergeming dan berpangku tangan saja tanpa melakukan sesuatu.

Apa jadinya, jika lingkungan satuan pendidikan yang seharusnya menjadi kawah candradimuka anak didik menjadi ladang pembulian, perundungan dan berbagai bentuk kekerasan terhadap mereka yang notabene adalah para kader penerus bangsa.

 

spot_img

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here


spot_img

Latest Articles