Kekerasan di Sekolah yang Tak Kunjung Sirna

Ilustrasi/Ist

Aksi kekerasan di lingkungan sekolah yang merupakan kawah candradimuka kader-kader penerus bangsa lagi-lagi terjadi di tengah acara ekstrakurikuler pengenalan kegiatan Pramuka di SMK Gunung Sahari , Makassar (3/11). Korbannya, 21 siswa yunior mengalami lecet-lecet atau anggota tubuh mereka melepuh karena digojlok oleh para seniornya dengan merangkak, berguling-guling sambil ditetesi lumeran lilin panas.

Kepala Sekolah, Hasanudin saat diwawancarai TV One, Rabu (4/11) pagi, mengemukakan bahwa ia sudah meminta panitia untuk mengawasi acara pengenalan tersebut sesuai aturan, namun ia tidak tahu apa yang terjadi setelah meninggalkan tempat seusai memberikan sambutan pada acara pembukaan.

Aksi-aksi kekerasan saat dimulainya tahun ajaran baru sekolah dengan berbagai istilah – masa perkenalan siswa (mapras) , perpeloncoan atau lainnya – agaknya sudah membudaya dan menjadi mata rantai kejadian berulang-ulang.

Psikolog Herlina berpendapat, siklus pengulangan terjadi antara lain karena siswa senior yang menjadi pelaku kekerasan terhadap para yuniornya, sebelumnya juga pernah mengalami nasib serupa. “Rangkaian aksi kekerasan seolah-olah sudah menjadi tradisi, “ kata Herlina. Menurut dia, bisa juga pemicu berbagai bentuk kekerasan yang terjadi di rumah, lingkungan tempat tinggal atau di tempat-tempat umum dibawa-bawa pelaku ke sekolah.

Aksi kekerasan di lingkungan sekolah, menurut dia, bisa saja terjadi akibat si pelaku yang merupakan siswa senior merasa terancam atas kehadiran yuniornya di bidang akademis, prestasi atau penampilan. Dengan kekuasannya, para senior berusaha “menghancurkan” para siswa baru, baik mental maupun fisik, yang bahkan bisa berujung maut.
Sebaliknya, siswa yunior yang menjadi korban, akan mengalami trauma berkepanjangan akibat kekerasan yang menimpanya di sekolah, bisa merasa tidak percaya diri, hilangnya motivasi bersekolah. Bahkan lebih parah lagi, menjadi pelaku kekerasan pada saat ia menjadi senior di sekolahnya.

Herlina mempetanyakan, akan dibawa kemana bangsa Indonesia, jika aksi-aksi kekerasan dianggap sesuatu yang biasa-biasa saja atau wajar dilakukan oleh semua orang. Pencegahannya, lanjut Herlina, bisa dilakukan dengan menanamkan pemahaman nilai-nilai moral bahwa kekerasan adalah perilaku buruk mulai dari tingkat keluarga di rumah, sekolah dan oleh para pemimp;in masyarakat, mulai dari level paling bawah.

Aksi kekerasan, khususnya di kota Makassar sudah menjadi “santapan” hampir sehari-hari. Selain pada acara pengenalan siswa yang baru saja terjadi itu, tawuran juga terjadi di ruang-ruang publik, antarsiswa sekolah, antarmahasiswa atau antarwarga disulut berbagai permasalahan sepele. Di ibukota, aksi-aksi tawuran pelajar juga pernah marak, walaupun sekarang sudah mereda.

Pertanyaannya, kemana dan apa saja usaha yang sudah dilakukan, mulai dari orang tua, pengawasan di lingkungan masyarakat mulai dari RT sampai lurah, guru-guru di sekolah, juga aparat kepolisian mulai dari pos-pos terbawah.
Di tengah, berbagai permasalah yang dihadapi bangsa dan negara saat ini, aksi-aksi kekerasan, baik fisik maupun verbal, harus menjadi perhatian semua pihak.

Harus dicari akar permasalahannya dengan melibatkan pakar-pakar budaya, pendidikan dan psikologi dan dicarikan solusinya, baik dengan penerapan pasal-pasal hukum yang lebih berat pada pelakunya, juga aksi pencegahannya oleh aparat territorial.

Jika tidak, orang akan bertanya-tanya, mana budaya luhur, ramah tamah dan santun yang selalu didengang-dengungkan selama ini.

Advertisement