Kekeringan, 4 Tahun Suku Amazigh Protes Tambang Perak Maroko

Suku Amazigh memprotes keberadaan tambang Perak di kawasan mereka yang membuat air tanah mengering. Foto: Al Jazeera

MAROKO (KBK) – Sejak empat tahun terakhir, warga Imider, desa tepencil di Gurun Sahara Maroko tidak henti-hentinya melakukan protes terhadap negaranya.

Mereka menyebut diri mereka “Gerakan di Jalan ’96” sebagai pengingat bahwa protes serupa di tahun 1996 pernah mereka lakukan.  Warga Imider membuat sebuah perkemahan di atas Gunung Alebban bedampingan dengan bendungan air utama yang digunakan untuk tambang.

Sejak 2011, penduduk setempat di perkemahan itu memprotes, terutama para petani, mereka berupaya menutup katup sumur terbesar di tambang itu, agar perusahaan tambang itu  menghentikan penggunaan air tanah.

Seperti dilaporkan Al Jazeera, Senin (14/12/2015) tambang ini dioperasikan oleh La Societe Metallurgique d’Imider (SMI) dan dimiliki oleh Societe Nationale d’Investissement (SNI), sebuah perusahaan holding swasta yang dimiliki oleh Keluarga Kerajaan Maroko.

Perusahaan ini paling produktif menghasilkan perak di Afrika, dan sangat membantu Maroko menjadi 15 produsen perak terbesar di dunia.

Namun di balik itu semua, warga Imider yang sebagian besar berasal dari etnis Amazigh menjadi korban dari tambang tersebut. Sebagian dari mereka hidup dengan pendapatan kurang dari satu dolar per hari, akibat kekeringan.

Dampak lain, akibat aktifitas tambang telah mengeringkan cadangan air mereka selama puluhan tahun dan menghancurkan lahan pertanian mereka.

Menurut sebuah laporan Konggres Global Amazigh, September 2015, sebuah organisasi internasional yang berfokus pada hak-hak minoritas Amazigh, tambang tersebut menggunakan 1.555 meter kubik air per hari, sebanding dengan kebutuhan konsumsi sehari-hari untuk 12 desa.

Advertisement