Kekeringan di India, Perdagangan Manusia Meningkat

Ilustrasi/Ist

MUMBAI—Kekeringan terburuk dalam beberapa dekade di sejumlah negara bagian India memaksa puluhan ribu orang pindah dari kawasan-kawasan pedesaan untuk mencari air, makanan dan pekerjaan, kata para pegiat.

Mereka mengatakan migrasi orang-orang dari pedesaan tersebut meningkatkan resiko bahwa mereka bisa diperdagangkan atau dieksploitasi. Sekitar 330 juta orang, hampir seperempat dari populasi India, sekarang dilanda kekeringan, demikian pemerintah memperkirakan.

Kaum perempuan, anak-anak dan para anggota keluarganya yang sudah tua ditinggalkan di desa-desa. Mereka paling berisiko untuk dieksploitasi. “Orang-orang di kawasan pedesaan selalu rentan karena mereka menginginkan pekerjaan lebih baik, kehidupan lebih baik,” kata Mangala Daithankar dari Aksi Sosial bagi Asosiasi dan Pembangunan, sebuah lembaga nirlaba di Pune, negara bagian Maharashtra, India.

“Kekeringan telah memperburuk situasi karena mereka sekarang sama sekali tak memiliki apa-apa,” kata Daithankar, yang bekerja di kawasan Marathwada, yang dilanda kekeringan di negara bagian itu, sekitar dua dekade.

Maharashtra merupakan salah satu dari negara-negara bagian yang dilanda kekeringan paling buruk dengan curah hujan sangat sedikit. Kekeringan berakibat dam-dam tak berair, tanaman dan ternak mati dan memaksa para petani berutang.

Ribuan petani bunuh diri karena menderita dan tak mampu membayar utang. Di distrik Jalna, di negara bagian itu, sejumlah desa hanya berisi perempuan papa dan anak-anak yang dirawat oleh saudaranya yang lebih tua. Mereka menjaga rumah-rumah dan ladang-ladang.

“Tak ada air, jadi tak pekerjaan yang mereka lakukan di ladang-ladang dan juga tak ada makanan bagi keluarga-keluarga mereka. Kaum perempuan dan anak-anak terutama rentan karena tak ada seorang pun yang menjaga mereka,” kata Vishwanath Todkar dari Paryay, sebuah lembaga swadaya masyarakat nirlaba di distrik Osmanabad, yang membantu membangun sistem pengelolaan air di beberapa desa.
Pindah ke kota
Kaum pria dan istri-istri mereka telah pindah ke kota-kota termasuk Mumbai dan Pune untuk mencari pekerjaan di sektor konstruksi dan buruh harian, tidur di bawah jembatan-jembatan layang dan tepi-tepi jalan. Beberapa orang mengemis di jalan-jalan, kata para aktivis.

Yang lain bersama keluarga mereka bekerja demi memperoleh uang seadanya dalam kondisi sangat menyedihkan di salah satu dari ratusan tempat pembuatan batu bata di negara bagian itu. Banyak perempuan lajang dan janda telah dijadikan perempuan tunasusila di kota-kota.

“Bencana-bencana menjadi alasan bagi perdagangan perempuan,” kata Dhananjay Tingal, direktur eksekutif Bachpan Bachao Andolan (Gerakan Selamatkan Masa Kanak-kanak). Dia mengatakan pihaknya telah menyelamatkan lebih 85.000 anak-anak dari perbudakan modern di India. ROL/Antara

 

Advertisement