SUKABUMI – Sebagian warga di selatan Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat dalam beberapa pekan terakhir mulai merasakan kesulitan mendapatkan pasokan air bersih akibat kekeringan.
Salah satunya warga yang tinggal di Kampung Cimapag, Desa Cikarae Toyyibah, Kecamatan Cikidang, Kabupaten Sukabumi, dimana warga harus berjalan sejauh satu kilometer untuk mendapatkan pasokan air bersih.
Mereka mengambil air ke sumber mata air bersih dengan melalui jalan yang terjal dan licin.
“Warga mengambil air untuk keperluan minum dan buat kebutuhan sehari-hari,” ujar warga Kampung Cimapag, Yeti Hayati (30 tahun), Selasa (24/7/2018).
Ia mengaku harus berjalan sekitar satu kilometer dari rumah hingga ke sumber mata air. Menurut Yeti, warga terpaksa mengambil ke sumber mata air karena sumur di permukiman warga mengering akibat kemarau.
Warga terpaksa mencari air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Jika sumber mata air mengecil maka warga terpaksa membeli air galon dengan harga Rp 9.000 per galon.
Kepala Desa Cikarea Toyyibah Ukat Sukatma mengatakan, dampak kekeringan sudah melanda wilayahnya sejak tiga bulan lalu. “Kami sudah memohon bantuan supaya warga kami menikmati air bersih,” kata dia.
Di sumber mata air ini belum ada bak penampungan air atau toren untuk memudahkan warga mengambil air bersih. “Harapanya pemerintah bisa membangun toren dan pipanisasi untuk saluran ke permukiman warga,” kata Ukat.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukabumi Maman Suherman mengatakan, hingga kini belum ada satu pun kecamatan yang melaporkan wilayahnya melaporkan terdampak kekeringan.
“Belum ada laporan dampak kekeringan di Sukabumi,” kata dia, dilansir Republika.co.id.





