spot_img

Tewasnya Simbul Perubahan di Rusia

ALEXEI Navalny (47), tokoh perlawanan terhadap rezim pemerintah Rusia di bawah Presiden Vladimir Putin, meregang nyawa saat berjalan santai di dalam kompleks penjara Arktik di kota Kharp, Siberia, Rusia, Jumat (17/2).

Menurut keterangan Lembaga Permasyrakatan Federal Rusia, nyawa Navalny tidak bisa diselamatkan oleh petugas medis yang datang beberapa menit setelah ia jatuh pingsan saat melakukan kebiasaan rutinnya itu.

Namun kecurigaan atas kematian Navalny muncul karena ia lolos dari usaha pembunuhan oleh penguasa Kremlin dengan racun syaraf Novichok sekitar tiga tahun lalu, kemudian dilarikan untuk mendapatkan pengobatan di Berlin.

Ia pulang ke Rusia atas kemauannya sendiri dan mendekam di penjara Moskow selama 37 bulan, lalu dipindahkan ke penjara di wilayah terpencil Arktik pada akhir Desember dan setelah itu tidak ada kabar beritanya. Navalny dikenai hukum penjara 30 tahun.

Navalny yang semula adalah pengacara merupakan simbul perlawanan terhadap pemerintah Rusia di bawah Putin yang disebutnya sebagai “rezim penjahat dan pencuri” di tengah praktek korupsi besar-besaran di negerinya.

Kecaman terhadap Presiden Putin atas kematian Navalny dilontarkan oleh sejumlah tokoh dunia seperti Presiden AS Joe Biden, Kanselir Jerman Olaf Schols, Presiden Perancis Emmanuel Macron, PM Inggeris Rishi Sunak dan lainnya.

Biden blak-blakkan menyalahkan Putin namun menyatakan tidak kaget atas kejadian tersebut. “Kami tidak tau persis apa yang terjadi, namun tak da keraguan, kematian Navalny adalah perbuatan Putin dan para tukang pukulnya, “ tutur Biden.

Sedangkan Sunak memuji Navalny sebagai pejuang paling gigih bagi demokrasi dan mengangumi keberaniannya yang luar biasa sepanjang hidupnya. “Kematian Navalny merupakan kabar buruk dan tragedi bagi rakyat Rusia, “ ujarnya.

Kanselir Jerman Olaf Scholz mengaku memiliki hubungan pribadi dengan Navalny saat ia berobat ke Berlin setelah  lolos dari percobaan peracunan terhadap dirinya di Rusia beberapa tahun lalu.

Sementara PM Kanada Justin Trudeau menilai, kematian Navalny membuktikan bahwa Putin akan mendindak siapa pun yang memperjuangkan kebebasan rakyat Rusia. “Ini yang membuat warga dunia (perlu) diingatkan, Putin adalah monster, “ tutur Trudeau.

Kecaman senada yanga meminta pertanggunjawaban Putin atas kematian Navalny dilontarkan pula oleh Presiden Ukraina Volodumyr Zelenskyy, PM Estonia Kalla Kajas dan PM P0landia Donald Tusk.

Presiden Perancis Emmanuel Macron bahkan menuding rezim pemerintah Putin mengeksekusi Navalny. “Di Rusia saat ini, orang yang berjiwa bebas dikirim ke penjara dan dihukum mati, “ ujarnya.

Sebelum tragedi   yang menimpa Navalny, komandan pasukan bayaran Wagner Grup di Rusia Yevgeny Prigozin tewas dalam kecelakaan udara setelah ia melancarkan kudeta yang gagal terhadap otoritas Presiden Putin Agustus lalu.

Kematian Navalny merupakan kehilangan besar bagi kelompok penentang Putin terutama para imigran Rusia di berbagai kota di Eropa yang berunjukrasa dan kehilangan asa untuk mengusungya dalam Pemilu Rusia Maret mendatang untuk menghadapi Putin.

Dengan nama lengkap Alexei Anatolievich Navalny lahir di kota Butyn, 40 Km dari Moskow, 4 Juni 1976, meraih gelar sarjana hukum dii Universitas Persahabatan pada 1998, lalu menerima beasiswa Universitas Yale, AS pada 2010.

Kubu pendukung Presiden Putin menganggapnya sebagai agen mata-mata asing karena ia pernah kuliah di AS, sebaliknya  kubu anti pemerintah, menganggap Navalny sebagai martir perubahan bagi Rusia. (Reuters/AFP/AP/ns)

 

spot_img

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here


spot_img

Latest Articles