Kembali ke Tilang Manual

TILANG elektronik yang disebut ETLE (Electronic Traffic Law Enforcement) hanya berumur beberapa bulan sejak dicanangkan April 2022 lalu. Dengan system baru tersebut, tilang manual dihapuskan, sehingga tugas polisi lebih ringan. Tapi apa lacur, setelah berlaku selama 8 bulan, Polri terpaksa kembali ke system lama mulai akhir Nopember lalu, karena system ETLE diakal-akali. Baru tahu? Orang Indonesia kan terkenal banyak akalnya, baik yang positip maupun negatif.

Bila ada Polantas di dekat lampu merah menghampiri Anda –jurnalistik sekarang menyebutnya kamu – lalu menghormat sambil berkata, “Selamat pagi Mas, bisa tunjukkan SIM dan STNK-nya?” Pasti akan kaget, karena itu artinya Anda kena tilang (bukti pelanggaran). Bisa kemudian diberi surat tilang, bisa dikasih tahu ini pelanggarannya dan dipersilakan jalan. Biasanya si pelanggar tak mau ribet dengan mengeluarkan uang, maksudnya damai saja, atau lapan anem.

Yang model-model begini ini tidak boleh, karena bisa merusak citra Polantas. Untuk meringankan kerja polisi dan juga tak menyusahkan pengendara sendiri, Polri kemudian menerbitkan ETLE. Pengendara melanggar kesalahan lalulintas apapun, Polantas akan membiarkan saja, sebab yang bekerja mesin ETLE yang selalu ada di sepanjang jalan raya siap mengintai segala kesalahan pengendara. Tahu-tahu ada surat tilang datang ke rumah berujud bukti rekaman CCTV tentang kesalahan pengendara.

Setelah surat dikirim, penerima surat atau pemilik kendaraan wajib melakukan konfirmasi. Konfirmasi ini dapat dilakukan melalui situs etle-pmj.info atau lewat aplikasi ETLE PMJ yang dapat diunduh hanya pada ponsel android. Menurut polisi masyarakat diberikan waktu 5 hari untuk melakukan konfirmasi. Masyarakat juga punya kesempatan melakukan klarifikasi, misalnya soal siapa yang melakukan pelanggaran. Terutama pada kendaraan yangs sudah dijual tapi belum dibalik nama, atau kendaraan Anda pas dipinjam orang.

Bila berjalan sesuai rencana, pasti ETLE akan membuat semuanya jadi praktis dan ekonomis. Polantas tidak perlu mengawasi setiap kendaraan yang lewat, bahkan ada oknum Polantas yang sengaja ngumpet untuk cari korban. Tentu ini oleh oknum yang mau cari obyekan kecil-kecilan. Sebab jika pengendara terima salah dan ngajak “lapan anem” lumayan untuk ongkos sarapan pagi.

Pada kenyataannya, justru buanyak pengendara mobil dan motor mencoba mengakali petugas. Speda motor hanya dipasang bagian depan, sementara plat belakang dicopot. Bahkan banyak pula yang berani bikin plat nomor palsu, karena kini banyak tukang bikin plat kaki lima, yang siap membantu pemalsuan Anda. Yang kasihan kan para pemilik mobil/motor yang nomernya terpakai untuk main akal-akalan ini. Sebab dia harus klarifikasi oleh tindakan yang tidak dilakukannnya.

Gara-gara ulah para pengendara nakal itulah Polri terpaksa kembali ke system lama. Padahal ini sangat menguntungkan bagi oknum Polantas yang suka ngobyek kecil-kecilan itu. Padahal banyak dijumpai hal-hal yang lucu gara-gara ulah oknum ini. Misalnya, ada Polantas yang mau nilang “system lapan anem” tahu-tahu yang mau ditilang anak sendiri. Gara-garanya, si anak pakai helm dan motor yang dipakai milik teman. Malu kan, mau ngobyek ketahuan anak sendiri.

Bila para pengendara berani ngakali system pengawasan lalulintas Polri, ini kan sudah menjadi kebiasaan orang Indonesia yang memang banyak akalnya. Apapun kebijakan negara, maunya mau disiasati dan diakali demi menguntungkan dirinya sendiri. Sangat disayangkan memang, ayat Quran yang banyak memerintahkan umat manusia untuk jadi kaum berakal, justru disalah-artikan untuk mengakali orang dan aturan negara. (Cantrik Metaram)