Kemelut Politik Italia

Krisis politik terjadi di Italia setelah PM Giuseppe Conte mengundurkan diri karena seorang calon menteri yang diajukanya ditolak Presiden Sergio Mattarella.

NEGERI asal spagheti dan pizza, Italia menghadapi krisis politik akibat penolakan Presiden Sergio Mattarella atas kabinet bentukan pemerintahan baru PM Giuseppe Conte yang memasukkan menteri ekonomi berpaham anti Uni Eropa (UE) Paolo Savona.

Savona yang dikenal gigih mempejuangkan agar mata uang lira keluar dari zona Euro diusulkan pemerintahan baru koalisi partai populis Gerakan Bintang Lima dipimpin Luigi di Maio dan partai ultra kanan, Liga pimpinan Matteo Salvini.

Sebelumnya Presiden Mattarella telah mengingatkan kedua pimpinan partai koalisi pemerintah baru itu untuk membentuk kabinet yang sejalan dengan “arah Eropa”, namun mereka berdua tetap bergeming dan tetap mengangkat Savona serta mengancam akan menuntut digelarnya pemilu baru jika kabinet tidak disahkan.

Maio dan Salvini selanjutnya akan mengupayakan pemakzulan terhadap Mattarella dan mengajak rakyat menggelar unjukrasa besar-besaran menentangnya pada perayaan Italia menjadi republik, Sabtu (2/6).

Salvini menilai, sikap yang ditunjukkan Presiden Mattarella tidak demokratis, tidak ada penghargaan terhadap suara rakyat dan mencerminkan nafas terakhir penguasa yang ingin menjadikan rakyat Italia ketakutan dan terus menjadi budak.

Sebaliknya, Mattarella yang mantan hakim konstitusi itu menegaskan bahwa ia akan melakukan apa saja yang mungkin untuk membantu terbentuknya pemrintah baru, tetapi tidak bisa menerima menteri ekonomi yang berniat membawa Italia keluar dari mata uang bersama, Euro.

Mattarella juga menolak tudingan bahwa ia telah mengambil langkah di luar wewenangnya, dan menyatakan bahwa apa yang dilakukannya semata-mata demi kepentingan negara.

Akibat krisis politik tersebut, PM Conte mengundurkan diri dan menetapkan Carlo Cottarelli sebagai pejabat perdana menteri untuk membentuk pemerintahan sementara hingga pemilu baru yang akan digelar awal 2019.

Namun demikian, kedua partai koalisi yang menguasai parlemen (Bintang Lima dan Liga) dipastikan akan memveto pemerintahan sementara Cottarelli sehingga jika itu terjadi, pemilu bakal digelar lebih cepat yakni sekitar Agustus tahun ini.

Pasar bursa di Milan, Paris dan Frankfurt merespons negatif kemelut politik di Italia tersebut yang sudah berlangsung sejak pemilu Maret lalu ditandai melemahnya nilai mata uang Euro terhadap dollar AS.

Perkembangan politik di dalam negeri Italia tersebut juga membuat cemas para investor asing yang memperkirakan pemilu baru akan memperkuat sentiment anti Euro.

Apakah Italia akan menyusul Inggeris yang “Brexit” duluan dari UE? Waktu dan rakyatnya yang akan menentukan. (AP/AFP/Reuters/NS)

Advertisement