Kemenkes Klaim Vaksinasi Turunkan Kasus Difteri

Korban anak-anak yang menderita difteri meningkat akibat penolakan warga terhadap imunisasi yang dianggap bertentangan dengan aturan agama (foto: hello sehat)

JAKARTA – Kementerian Kesehatan menyebutkan penyebaran difteri menurun pada akhir tahun 2017 ini, karena program vaksinasi yang telah dilakukan.

Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan, Kementerian Kesehatan Elizabeth Jane Soepardi menjelaskan saat ini penambahan kasus dalam satu minggu terakhir sudah menurun, sekitar lima kasus per hari. Sebelumnya tinggi, di atas 10-20 kasus per harinya.

“Kita lihat nanti setelah tahun baru nanti, kita harus waspada ini, jangan sampai terjadi outbreak (wabah) di sekolah di sekolah, pesantren ataupun di asrama.” katanya, dilansir BBC Indonesia, Jumat (29/12/2017).

Meski tren kasus difteri diklaim menurun, tetap saja mewabahnya kembali difteri menjadi fokus perhatian pemerintah. Hingga pertengahan Desember sudah menyebabkan jatuhnya korban 38 jiwa di Indonesia.

Kementerian Kesehatan akan memasukkan vaksinasi difteri untuk orang dewasa ke dalam program vaksinasi nasional. Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan, Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Elizabeth Jane Soepardi mengungkapkan pihaknya akan memulai studi serologi untuk meneliti immunity gap, yaitu kesenjangan atau kekosongan kekebalan di kalangan penduduk di suatu daerah.

Kekosongan kekebalan ini terjadi akibat adanya akumulasi kelompok yang rentan terhadap difteri, karena kelompok ini tidak mendapat imunisasi atau tidak lengkap imunisasinya.

 

Lebih jauh Jane menjelaskan pada awal tahun depan pemerintah akan mengadakan memperluas cakupan wilayah Outbreak Response Immunisation (ORI) untuk mencegah wabah difteri semakin parah. Pada 11 Desember lalu, ORI dilakukan di 12 kabupaten/kota di tiga provisi, yakni DKI Jakarta, Jawa Barat dan Banten.

“Sesudah itu kan ada kabupaten kota lagi yang kemungkinan harus masuk sehingga jumlahnya mungkin akan berubah. Tapi yang pasti akan dilaksanakan itu adalah Jawa Timur, itu kasus paling banyak. Kemudian, Aceh, Sumatra Selatan, Lampung. Itu antara lain kita bisa hampir pasti ya, dan Kalimantan Barat,” kata dia.