Makanan Masih Jadi Keluhan Utama Pengungsi di Manggarai Timur NTT

MANGGARAI TIMUR, KBKNEWS.id — Sebanyak 242 kepala keluarga (KK) korban bencana gempa bumi di Dusun Waso, Desa Satar Kampas, Kecamatan Lamba Leda Utara, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), kini terpaksa bertahan hidup di tenda-tenda darurat. Memasuki dua pekan pascagempa, kondisi para pengungsi dilaporkan kian memprihatinkan akibat keterbatasan fasilitas dan menipisnya persediaan logistik.

Ratusan keluarga terdampak tersebut saat ini menempati puluhan tenda pengungsian yang didirikan seadanya di area perkemahan darurat. Kepadatan di tempat penampungan sementara menjadi tantangan tersendiri bagi warga yang kehilangan tempat tinggal mereka.

Salah seorang warga terdampak, Sanusi Tahir, mengungkapkan bahwa terdapat puluhan tenda yang saat ini menjadi tempat bernaung warga. “Yang mengungsi di sini 242 KK, tersebar dalam 35 tenda,” ujarnya saat ditemui di lokasi perkemahan gempa Dusun Waso, Jumat (27/8/2026).

Setelah lebih dari sepekan berada di pengungsian, kebutuhan dasar para pengungsi mulai sulit terpenuhi. Warga mengaku sangat membutuhkan ketersediaan fasilitas sanitasi, air bersih, serta pasokan bahan pokok untuk bertahan hidup sehari-hari.

Sanusi menyampaikan bahwa fasilitas kebersihan dan persediaan pangan menjadi masalah paling mendesak di tenda-tenda pengungsian saat ini. “Keadaan di pengungsian kami ini memang terlalu banyak kekurangan, terutama WC umum, air minum, sembako juga. Pokoknya seluruh konsumsi yang mungkin dalam satu-dua hari ke depan ini kami kekurangan semua,” jelasnya.

Terkait pasokan bantuan yang sudah diterima, Sanusi menuturkan bahwa sejumlah pihak sebenarnya telah menyalurkan logistik ke lokasi pengungsian. Distribusi bantuan berasal dari instansi penanggulangan bencana, pemerintah daerah, hingga berbagai lembaga swadaya masyarakat.

“Bantuan yang masuk selama ini banyak dari organisasi, dari BNPB juga masuk, dari pemerintah daerah juga masuk. Pokoknya dari segala penjuru sudah masuk ke sini, tapi kami juga berharap yang lainnya juga bisa membantu kami yang dalam keadaan kesulitan ini,” tambah Sanusi.

Kondisi permukiman warga di Dusun Waso sendiri mengalami kehancuran total akibat guncangan gempa tersebut. Tidak ada lagi bangunan rumah warga yang tersisa dalam kondisi layak untuk dihuni, sehingga relokasi sementara ke tenda pengungsian menjadi satu-satunya pilihan.

“Kalau dusun kami, Dusun Waso ini 100% hancur rumah dan tidak bisa ditempati. Kami hanya berharap kepada pemerintah mungkin bisa membantu kami atau dari organisasi, lembaga-lembaga lain yang bisa membantu kami,” tutup Sanusi penuh harap.

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here