
TULUNGAGUNG – Kemiskinan tidak menjadi penghalang bagi seseorang jika bersungguh-sungguh ingin menimba ilmu. Contoh teladan ini bisa didapat dari Murti Tri wahyuni, 20 tahun, penerima beasiswa Bidikmisi di IAIN Tulungagung.
Dengan keyakinan yang kuat agar mendapatkan pendidikan tinggi dan berharap bisa memperbaiki nasib keluarganya kelak, Yuni memberanikan diri mendaftar di IAIN Tulungagung melalui jalur SPAN-PTKIN.
Sementara itu adik laki-laki Asiyah yang tinggal di Situbondo memberitahu bahwa Yuni bisa mendaftar kuliah gratis, karena saat ini banyak fasilitas beasiswa.
Setelah mengetahui telah lulus dari jalur SPAN-PTKIN, dan menyadari tidak mungkin orang tuanya membiayai kuliahnya, maka sebagaimana saran dari saudaranya, dia pun mendaftarkan diri untuk seleksi Bidikmisi.
Bidikmisi adalah program bantuan biaya pendidikan yang diberikan Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mulai tahun 2010 kepada mahasiswa yang memiliki potensi akademik memadai dan kurang mampu secara ekonomi.
“Tadinya tidak percaya saat menerima SMS pengumuman bidikmisi dari pihak kampus kalau saya lolos, tapi setelah melihat pengumuman di website barulah saya yakin. Dan Alhamdulillah bisa lolos”, curhat Yuni kepada Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin yang mengunjungi rumah Yuni, Senin (2/5/2016).
Kedatangan Menteri Agama yang didampingi Rektor IAIN Tulungagung, Dr. Maftukhin, M.Ag ke sebuah rumah sederhana dengan sebagian besar dindingnya gedhek (dinding bambu) dan lantai tanah tersebut membuat hati orangtua Yuni, Teguh Hadi Suntoro (68 tahun) dan Asiyah (62 tahun) bergetar.
Mereka mengungkapkan rasa bahagia dan tidak menyangka akan mendapatkan kunjungan dari Menteri Agama. Pasangan yang sehari-hari bekerja menjadi buruh serabutan tersebut mengaku sempat bingung dengan keinginan putrinya untuk bisa melanjutkan kuliah ketika akan lulus dari SMA Surya Buana Malang.
Yuni bisa bersekolah di tempat tersebut pun juga karena beasiswa. Sementara adiknya juga ingin melanjutkan sekolah ke jenjang SMA.
Meskipun telah lolos bidikmisi, Yuni mengaku juga sempat bingung, karena meskipun sudah lolos bidikmisi dia harus membayar UKT semester 1 sebesar Rp. 927.500 sebelum dana bidikmisi dicairkan.
Akhirnya dia mendapatkan pinjaman dari Badar Catur (22 tahun) yang saat itu bekerja di sebuah toko di kawasan desa Karangtalun kecamatan Kalidawir.
Dalam perbincangan dengan Menteri Agama tersebut Yuni yang saat ini duduk di Semester IV Jurusan Tadris Bahasa Inggris IAIN Tulungagung tersebut menjelaskan bahwa setiap semesternya dia mendapatkan dana sebesar Rp. 927.500 untuk membayar UKT dan uang saku sebesar Rp. 600.000 setiap bulannya.
Uang saku akan Yuni gunakan untuk membayar kos, kebutuhan pokok sehari-hari serta keperluan lain yang dibutuhkan dalam kegiatan perkuliahan seperti fotokopi buku dan cetak makalah. Cukup tidak cukup, ia harus berusaha memakainya dengan penuh perhitungan.
“Ya dicukup-cukupkan,” jawab Yuni singkat disambut tawa Menteri Agama dan segenap yang hadir. Di akhir kunjungannya, Meag pun bepesan agar Yuni rajin belajar supaya bisa menyelesaikan studinya dengan baik sehingga cita-citanya dari kecil ingin menjadi guru dapat terwujud.
Sumber: Antara




