Kenapa Musti Gondrong?

Sebagai kostum, buta "bala dhupakan" WO Sriwedari Solo justru harus berambut gondrong.

 

          POLRES Depok dari kemarin mewajibkan, semua pemohon SIM baik yang baru atau sekedar memperpanjang, harus tampil klimis dalam fotonya. Maka bagi yang berambut awut-awutan, panjang cenderung gondrong, silakan potong rambut dulu. Semuanya disediakan gratis oleh pihak Polres. Kenapa sebegitu perhatiannya polisi terhadap orang berambut tidak rapi? Kenapa pula seorang lelaki harus berambut awut-awutan, berambut gondrong seperti “bala dhupakan” di WO Sriwedari, Solo?

Rambut awut-awutan alias gondrong, biasanya menjadi “monopoli” kaum seniman atau budayawan. Disebut “biasanya”, karena tak selalu juga, seorang seniman berambut gondrong. Banyak seniman yang tampil rapi dan necis. Yang aneh, wartawan dan tukang batu pun ada juga yang berambut gondrong, rembyak-rembyak seperti pemain wayang orang dikasting jadi buta Rambut Geni.

Ada juga anak muda yang baru menciptakan beberapa puisi dimuat di lembaran sastra sebuah koran, langsung menggondrongkan diri. Ketika rambutnya jadi rungkut macam semak belukar, justru semakin bangga. Padahal Taufik Ismail penyair kondang sejak tahun 1966, penampilannya selalu rapi. Jadi apakah sebetulnya hubungan antara seniman atau yang berjiwa seni dengan rambut gondrong?

Seniman itu biasanya hanya fokus pada karya seninya, sehingga tak peduli atau tak sempat memikirkan penampilan dirinya. Biar saja jenggot, kumis dan rambutnya awut-awutan seperti wayang Burisrawa, tapi yang penting hasil karyanya mengguncang publik. Seniman biasanya memang lebih mengedepankan isi, ketimbang kulit. Kecuali seniman itu sedang makan salak pondoh dari Sleman.

Jika semakin banyak orang berambut gondrong, tukang barbir atau pangkas rambut bakal kehilangan pasar. Bisa-bisa mereka demo ke Pemda, minta perlindungan. Bupati atau Walikota didesak untuk melarang orang berambut gondrong. Presis perilaku sopir taksi dan ojek konvensional yang ladangya diserobot taksi/ojek berbasis aplikasi.

Hanya jaman pemerintahan Sukarno, negara begitu open dengan rakyatnya yang berambut gondrong. Sekitar tahun 1966, ada istilah: ganyang rambut sasak dan celana/rok metkong (mepet bokong) alias ketat. Maka kala itu di mana-mana ada razia; polisi dengan gunting di tangan siap membabat yang berambut gondrong, pakai rok span terlalu ketat. Bahkan grup musik “Koes Bersaudara” pun harus masuk penjara, karena mereka berambut gondrong dan tampilkan lagu ngak ngik ngok.

Pada masa itu, Bung Karno begitu cemas dengan dekadensi (kemerosotan) moral bangsanya. Kala itu belum ada internet, belum ada HP canggih yang bisa untuk main WA. Namun arus budaya Barat sudah merasuki para generasi muda waktu itu. Sebagai pencipta misi Trisakti, Presiden Sukarno sangat menginginkan rakyat Indonesia berkepribadian dalam budaya.

Rambut gondrong memang bukan ancaman bangsa sebagaimana ISIS, hanya saja orang berambut gondrong itu menyebabkan kepala pemiliknya tak terasa isis (sejuk). Maka bagi mereka yang tak suka rambut gondrong, ketika rambut kepala sudah nampak nggesrek katengkas (baca: kena telinga) menjadi tak nyaman. Buru-buru pergi ke tukang pangkas rambut.

Saking antinya rambut gondrong, ada orang yang jadi tak suka lagu-lagunya Didi Kempot sekarang, atau Koesplus di tahun 1970-an. Bahkan di Jakarta ini, pernah ada Pemred majalah Jawa yang melarang wartawannya wawancara dengan pejabat, jika tetap mempertahankan kegondrongannya. Memang tak ada hubungannya, tapi bikin sepet di mata. (Cantrik Metaram).

Advertisement