LANTARAN bermata buta, meski putra sulung Prabu Abiyasa, Destarata tak bisa menjadi raja Ngastina. Merujuk pada Civic atawa Ilmu Tata Negara, ini bisa disebut “berhalangan tetap”. Karena itulah tampuk pemerintahan Ngastina kemudian diberikan kepada Pandu. Tapi jikalau sedang milik, rejeki Destarata bisa datang dari mana saja. Tiba-tiba Pandu meninggal “serangan jantung” saat hubungan intim dengan Madrim istri keduanya, gara-gara minum viagra. Mengingat anak-anak Pendhawa masih kecil, Destarata kemudian didaulat menjadi Pjs raja.
Yamawidura putra yang lain Abiyasa, sesungguhnya lebih kafabel sebagai Pjs negeri Ngastina, karena hanya pincang kaki. Tapi dia menolak jabatan tersebut, dengan alasan ingin lebih fokus sebagai Hakim Agung Ngastina. Maklum, instansinya belakangan banyak dibelit kasus. Sejumlah hakim ditangkap KPK karena sogok, tapi ada pula hakim wanita yang mesum dengan PIL-nya ditangkap di hotel melati.
“Bener nih, kamu rela aku menjadi Pjs Ngastina? Nanti kamu diam-diam sewa pendemo bayaran?” selidik Destarata yang kini pakai embel-embel: prabu.
“Enggaklah, suwer! Saya mau fokus jadi Hakim Agung yang killer saja, sehingga para koruptor ketakutan.” jawab Yamawidura terus terang.
Yamawidura ingin meniru langkah hakim Agung Artijo Alkostar, yang bikin mati kutu para pencoleng uang negara. Terpidana kasasi, langsung divonis 2 kali lipat dari hukuman semula. Karenanya di kalangan koruptor perwayangan, Yamawidura dianggap penjelmaan Yamadipati dewa pencabut nyawa. Koruptor ketemu Yamawidura, ampun dah! Anak putu aja melu-melu (anak cucu jangan ikutan).
Destarata pun merasa lega, karena tak ada rival politik dalam pemerintahannya. Cuma yang bikin resah raja baru ini, adalah Dewi Gendari sang istri. Setelah statusnya naik sebagai Ibu Negara, dia jadi kemaruk kekuasaan. Apapun kebijakan Prabu Destarata, dia intervensi. Kongkalikong dengan Patih Sengkuni si adik sendiri, banyak SK Prabu Destarata yang dipelintir demi kepentingan kroninya. Pendek kata, segala kekurangan Pjs Ngastina justru bisa disulap menjadi “mesin uang” Sengkuni – Dewi Gendari.
“Kamu harus hati-hati Bu, jangan bikin malu. Baru aku ngajak kamu dan sejumlah anakku ikut kunjungan kerja ke Wirata saja, banyak rakyat yang mengecam. Katanya menyalah-gunakan fasilitas negara.” Sindir Prabu Destarata.
“Alah, lembe nggambleh saja kok didenger. Biar saja….,” begitu jawab Gendari.
Paling celaka, di kala sedang heboh pemancungan TKW (Tenaga Kerja Wayang) di Arab Saudi, Prabu Destarata menerbitkan SK penyetopan ekspor babu. Ternyata oleh Patih Sengkuni – Gendari, huruf B paling depan ditipex sehingga berbunyi: abu. Akibatnya, pengiriman TKW jalan terus, sementara produsen abu gosok di kampung-kampung demo rame-rame. Prabu Destarata dimaki habis, bahkan menyangkut anatomi segala.
“Udahlah Pak, sampeyan operasi mata di RS Aini saja, agar kelak bisa menjadi raja permanen,” saran Dewi Gendari.
“Penyakitku yang kadung permanen, Bu. Kamu janganlah bermimpi yang bukan hakmu. Pengin jadi permaisuri raja, malah kena penyakit “rajasinga”…,” nasihat Prabu Destarata. Dia dongkol benar karena istrinya begitu ambisius melanggengkan kekuasaan.
Prabu Destarata juga terkena vertigo gara-gara pusing 7 keliling menjadi raja Ngastina. Mentang-mentang dirinya buta, bawahan bertindak semaunya. Diperintahkan turunkan harga BBM, tak juga dilaksanakan dengan alasan defisit APBN. Bahkan Pendita Durna ditugasi bikin fatwa haram bagi penimbun bensin, nggak berani juga. Katanya, tanpa tabayun itu menjadi hal sangat sensitip, bisa mengancam NKRA (Negara Kesatuan Raja Astina).
“Dalam UUD Astina, nggak ada pasal semacam itu.” Alasan Begawan Durna.
“Kan bisa diamandemen, Wakne Gondel.” Patih Sengkuni asal-asalan.
Tak tahan menjadi Pjs raja Ngastina yang makan hati melulu, Destarata segera ambil keputusan lengser keprabon. Dalam sebuah pernyataan politik di TV, Destarata ingin menyerahkan negara langsung kepada Pandhawa. Tapi Gendari – Sengkuni merintanginya, dengan alasan Puntadewa belum cukup dewasa. Kalaupun dia naik KA sudah bayar penuh, karena dalam UU Perhubungan Ngastina, usia 4 tahun sudah dianggap dewasa.
Begitulah, instruksi Destarata hanya dikentuti Sengkuni – Gendari. Lalu seperti banyak diprediksi para pengamat politik, pada akhirnya posisi raja Ngastina diberikan kepada Jakapitana yang baru saja lulus Undip (Universitas Dipati Ukur). Wayangnya masih begitu lholhak-lholhok bin plonga plongo (tampang bodoh), sehingga kehadiran tokoh karbitan tersebut banyak memancing protes LSM dan pers.
“Ini cuma sementara, jadi tolong jangan dipolitisir. Percayalah, bila tiba saatnya aku akan selalu mengawal suksesi tersebut dari Jakapitana kepada Puntadewa.” Janji Haryo Suman.
“Alah, gombal. Kalau sudah duduk, lupa berdiri…..” protes LSM “Waton Sulaya”.
Menjelang jumenengan raja baru, Dewi Gendari – Patih Sengkuni propaganda pencitraan tokoh muda Jakapitana lewat buku. Pelajar SD – SMA wajib beli buku “Jakapitana membangun Ngastina Plus”. Meski hanya sekedar buku jenis pengayaan, banyak materi dalam buku itu yang dijadikan acuan soal Ujian Nasional. Bahkan belakangan buku tersebut menjadi pegangan wajib kaum pelajar Ngastina. Kepala Sekolah yang menolak buku itu, langsung dicopot meski belum menjabat 4 tahun.
Sudah menjadi tradisi suksesi di Ngastina, calon raja harus testing duduk pada dampar Istana Gajahoya. Raja-raja Ngastina sebelumnya sebagaimana Pandu, Abiyasa, Sentanu, hingga Palasara; semuanya berhasil duduk manis di dampar keramat itu. Bila mana seorang raja tidak mampu menduduki dampar tersebut, itu artinya dia menduduki kursi haram. Sanksinya sungguh berat. Kalau tidak mati didemo rakyat yang anarkis, juga tewas disambar petir.
“Bagaimana paman Sengkuni, kira-kira saya kuat nggak, ya?” ujar Jakapitana penuh pesimistis.
“Kuat, kuat. Sebelum prosesi banyak minum suplemen dan sarapannya nambah,” saran Haryo Suman asal njeplak.
Lantaran hari “jumenengan” Jakapitana penuh rekayasa, acara itu hanya dihadiri oleh Kurawa 99, ditambah Gendari – Haryo Suman. Sepertinya leluhur Ngastina memang tak merestui, sehingga meskipun telah dibantu oleh Gendari – Sengkuni, Jakapitana selalu melorot dari kedudukannya, persis Gogon Srimulat. Demikian juga saat ditest naik Gajah Antisura, Jakapitana dilemparkan lewat belalainya. Dia jatuh menimpa angkringan bakso. Hampir saja Jakapitana koit.
“Sudahlah, anak kita memang nggak bakat jadi raja. Suruh jualan koran saja dia,” perintah mantan Prabu Destarata.
“Ya jangan gitu, Kangmas. Pokoknya, Jakapitana the best.” kata Gendari ngotot alkhotot.
Meski ditolak para leluhur, Jakapitana tetap bersikeras memimpin negara Ngastina. Karena duduk di kursi resmi tak mampu, Gendari pesan dampar kayu jati asli made in Klender seharga 24 juta perset. Gajah Antisura yang mogok, ditukar dengan gajah pinjaman dari bonbin Ragunan. Hari itu juga Patih Sengkuni bikin pengumuman di website kerajaan dan TV bahwa Jakapitana resmi menjadi raja definitip negeri Ngastina.
“Rakyat Ngastina tak perlu khawatir, tepat bulan Oktober 2019 Jakapitana akan berhenti dan menyerahkan negara pada Pendawa.” Patih Sengkuni memberi jaminan.
“Lalu patihnya siapa?”
“Otomatis ya tetap gue, dong!” jawab Sengkuni sambil menuding dada sendiri.
Pada kenyataannya, lewat Perppu kontroversial Jakapitana tetap menjadi raja permanen meski Pendawa telah dewasa. Patihnya juga tetap Sengkuni dengan alasan tokoh mumpuni sekaligus pejuang reformasi birokrasi. Tokoh ini memang begitu kuat. Meski terbukti terima transveran dana asing Rp 600 miliar, tetap tak mau mundur. Dari situlah Sengkuni bisa umroh dan membangun pertokoan besar: Jenar Plaza. (Ki Guna Watoncarita)



