
UPAYA China menanamkan “kukunya” di wilayah Pasifik Selatan agaknya tidak berjalan mulus dan tentu saja dicermati oleh negara-negara di kawasan seperti Australia dan Selandia Baru dan seterunya, Amerika Serikat.
Semula, China menawarkan pembentukan pakta keamanan yang antara lain memuat kerjasama pelatihan kepolisian, keamanan siber, pelruasan hubungan politik, pemetaan laut dan akses lebih luas pada sumberdaya alam dan laut.
Tak hanya itu, China juga menawarkan bantuan keuangan pada negara-negara di Pasiifk Selatan, perjanjian perdagangan bebas China dan Pasifik serta pemberian akses ke pasar China yang dihuni 1,4 miliar penduduk.
Presiden China Xi Jinping dalam pertemuan virtual dengan para pemimpin negara-negara Pasiifk Selatan beberapa waktu lalu juga menyebutkan posisi negaranya sebagai “saudara yang baik” dan bernasib sama dengan negara-negara di kawasan itu.
Sebaliknya, Presiden Mikronesia David Panuelo menilai, tawaran China “tidak tulus” karena bakal membuat pengaruh negara itu terhadap pemerintah, pengendalian industri utama dan ekonomi negara negara di kawasan Pasifik semakin dalam.
Panuelo tidak mendukung tawaran China tersebut yang dianggapnya hanya akan meningkatkan ketegangan geopolitik dan mengancam stabilitas serta dicemaskan bakal menyeret kawasan Pasifik ke era seperti Perang Dingin lalu.
Para pemimpin negara Kepulauan Pasifik juga menyatakan, mereka tidak akan menyepakati “Visi Pembangunan Bersama” usulan China sebelum tercapai kesepatan regional.
“Kami selalu mengutamakan konsensus dari semua sebelum menanda-tangani perjanjian regional, “ ujar PM Fiji Frank Bainimarama seusai pertemuan virtual wakil negara-negarea Kepulauan Pasifik dan China di Suva, Fiji, Senin (30/5).
Papua Niugini, Samoa dan Micronesia disebut-sebut sebagai negara yang mencemaskan usulan China tersebut.
Sementara Dubes China di Fiji Qian Bo sendiri mengklaim, secara umum ke-10 negara di Kep. Pasifik mendukung usulan China walau ada persoalan dalam beberapa isu khusus yang akan dibahas lagi selanjutnya.
Menlu China Wang Yi sendiri beberapa waktu lalu juga melakukan lawatan keliling (road-show) ke negara-negara Kep. Pasifik guna meningkatkan akses negaranya terutama di negara-negara Pasifik Selatan.
Guna menyelamatkan “muka” China akibat penolakan 10 negara di Pasifik Selatan untuk menandatangani perjanjian keamanan, Wang menyebutkan bahwa mereka menyetujui nota kesepahaman terkait inisiatif pembangunan infrasutruktur “Sabuk dan Jalan” (Belt and Road” yang digagas China.
“Kedua belah pihak akan terus berkonsultasi lebih mendalam agar tercapai konsensus terkait kerjasama China dan Pasifik, “ kilahnya.
Campur Tangan AS
Penolakan negara-negara Kepulauan Pasifik untuk berkerjasama di bidang keamanan dengan China kemungkinan terjadi akibat intervensi negara-negara Barat yang sudah lama mengamati gelagat aktivitas China di kawasan itu.
AS, Australia dan Selandia Baru yang sudah memiliki hubungan dan kerjasama dengan negara-negara Kepulauan Pasifik sejak lama juga mencemaskan kehadiran China akhir-akhir ini.
Negara-negara Pasifik sendiri, merasa risih didorong ke dalam pusat pergolakan geopolitik antara China dan Barat (AS, Australia dan Selandia Baru) dan sebagian ingin menyeimbangkan hubungan mereka di antara kedua blok terbatas pada masalah lingkungan, perubahan iklim atau ekonomi.
Hanya bekas jajahan Inggeris, Kepulauan Solomon yang menandatangani perjanjian keamanan dengan China 25 Maret lalu sehingga membuat risih Australia, AS dan Selandia Baru.
Sebaliknya, China akhir-akhir ini memang gencar melakukan upaya diplomasi untuk merangkul berbagai negara di kawasan Afrika, Asia Tenggara dan Amerika Latin.
China dengan kemajuan ekonomi dan kekuatan militer, tampaknya ingin mematahkan hegemoni AS sebagai penguasa dunia. (Reuters/AFP/AP/ns)




