Italia-Kepolisian Eropa (Europol) melaporkan sekitar 10.000 anak yang mengungsi ke beberapa negara di Eropa hilang.
Mereka dikhawatirkan anak-anak yan ghilang itu terjerumus ke dalam jaringan perdagangan manusia dan perbudakan seks.
Seperti diberitakan AFP, Ahad (31/1) jumlah pengungsi anak yang hilang seperti disebutkan harian Inggris The Observer, jumlah itu dalam waktu 18-24 bulan terakhir.
Kepala Staf Europol Brian Donald mengatakan anak-anak yang rentan itu hilang dari sistem, setelah terdaftar oleh pihak berwenang di negara bersangkutan menyusul kedatangannya di Eropa.
“Tidak masuk akal untuk mengatakan bahwa kami mencari 10.000 lebih anak,” kata Donald, seraya menambahkan bahwa 5.000 anak hilang di Italia saja.
Namun, beberapa anak juga dikabarkan mungkin sudah dikembalikan ke orang tuanya. “Sebagian mungkin sudah diserahkan kepada anggota keluarga lainnya. Hanya saja kami tidak mengetahui di mana keberadaan mereka, apa yang mereka lakukan atau bersama siapa mereka sekarang ini,”imbuh Donald
Donald mengatakan ada bukti-bukti yang menunjukkan bahwa “infrastruktur kriminal” didirikan lebih dari 18 bulan terakhir guna mengeksploitasi arus kedatangan migran ke Eropa.
The Observer melaporkan bahwa Europol menemukan bukti adanya hubungam antara jaringan penyelundup yang membawa masuk orang ke Uni Eropa dan sindikat perdagangan manusia yang mengeksploitasi migran untuk seks dan perbudakan.
“Ada penjara-penjara di Jerman dan Hungaria di mana kebanyakan orang yang ditahan dan ditempatkan di sana berhubungan dengan aktivitas kriminal seputar krisis migran,” kata Donald.





