Kereta MRT Mirip Jangkrik?

Ilustrasi: Jangkrik dan buku Tataran.

PROYEK pembanguman mass rapid transit (MRT) di Jakarta diperkirakan selesai pada akhir 2018, dan mulai beroperasi pada awal 2019. Sejak itu nanti warga Ibukota bisa ambles bumi (masuk dalam tanah) seperti wayang Antareja, karena transportasi modern itu memang dikontruksi sebagian besar melalui jalur di bawah tanah. Berbahagialah warga kota, karena dengan MRT dan juga LRT (light rail transit) yang juga dioperasikan di tahun yang sama, kemacetan lalulintas bisa banyak dikurangi.

Tapi belum juga selesai dibangun dan rangkaian kereta api ringan itu masih dipesan di Jepang, model lokomotif MRT tersebut sudah dikritik Plt Gubernur Jakarta, Soni Sumarsono. Katanya, kepala kereta itu mirip jangkrik, tidak aerodinamis. Dia minta kalau bisa, pihak Nippon Sharyo dan Sumitomo selaku produsennya mau mendisain ulang. Agaknya Pak Plt tak mau warga Surabaya nantinya melihat bentuk lokomotif itu akan berkomentar kaget, “Jangkrik!”

Jangkrik memang makian khas Surabaya, yang takkan membuat tersinggung pihak yang mendengar atau menjadi sasaran makian tersebut. Justru itu bentuk keakraban khas Surabaya, seperti halnya kata diancuk dan diamput. Jika itu yang mengucapkan teman lama atau teman sepermainan, justru akan disikapi dengan tertawa-tawa.

Jangkrik ternyata bukan jenis serangga monopoli alam tropis sebagaimana Indonesia. Di Arab Saudi, khususnya di musim haji, di Mekah dan Madinah banyak juga ditemukan jangkrik di halaman mesjid. Mereka ini juga selalu tampil sejoli, di mana ada jangkrik jantan, di situ pasti ada pula jangkrik betinanya.

Ketika suara jengkerik mengerik di tengah malam sunyi, akan terasa indah sekali, menggambarkan alam yang begitu damai. Ingatan orang –yang asalnya dari kampung– otomatis akan teringat kampung halamannya, di mana di masa kecil sangat akrab dengan suara itu. Bahkan bersama-sama teman beramai-ramai ndingkik (berburu) jangkrik di pesawahan musim kemarau, di antara tanah nela (retak-retak). Di situlah jangkrik-jangkrik bersembunyi.

Anak-anak pedesaan sampai tahun 1970-an, masih akrab dengan mainan jangkrik. Dari sekedar didengar suaranya sampai diadu dalam clunthang (kandang jangkrik). Jangkrik yang berbulu keemasan disebut jrabang, dan yang berbulu hitam dinamakan jlitheng. Ketika diadu, justru jangkrik yang kakinya gothang (tinggal satu), justru akan menangan. Mungkin si jangkrik frutrasi, buat apa hidup dengan kaki hanya satu, mending mati saja sekalian!

Jangkrik dewasa, di Hanoi ibukota Vietnam, justru bisa disulap menjadi makanan lezat. Jika Anda mengunjungi “Warung Semut” di Jalan Nghi Tam nomor 143, beberapa tahun belakangan ini menyediakan masakan-masakan dari serangga kepada puluhan ribu pelanggan. Ny. Nguyen Thuy Anh, pemilik restauran ini sibuk menggoreng walang sangit dan jangkrik untuk para tamunya.

Buat orang Indonesia masa kini, mungkin jijik akan menu-menu semacam itu. Tapi di Tanah Jawa tahun 1930-an, sebetulnya biasa jangkrik dan gangsir digoreng untuk lauk makan. Dalam buku bacaan anak (berbahasa Jawa) Tataran –lebih dikenal sebagai Kuncung Bawuk– karya Wignyadisastro, diceritakan bahwa jangkrik digoreng untuk lauk makan. Tapi pada buku yang sama edisi setelah proklamasi, diedit lagi bahwa jangkrik dan gangsir ditangkap untuk pakan ayam.

Seiring dengan hobi orang piara burung, kini tumbuh subur peternakan jangkrik di mana-mana. Bahkan di Cirebon, seorang lulusan ITB bernama Bambang Setiawan sukses mengembangkan tehnik bisnis beternak jangkrik dengan omset Rp 500 juta (2015) sebulan. Dia punya karyawan 65 orang, dengan produksi sehari 200 Kg jangkrik pakan untuk dikirim ke berbagai kota. Kini dia hidup nyaman, santai sambil mendengarkan kaset lama lagu “Jangkrik Genggong” yang dinyanyikan Waldjinah. (Cantrik Metaram)

 

 

 

 

 

Advertisement