ERA kejayaan Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS) agaknya sudah menjelang hari-hari terakhir setelah dua ibukotanya kekhalifahannya, Mosul di Irak dan Raqqa di Suriah digempur habis-habisan oleh pasukan Irak dan koalisi.
Tanda-tanda akhir perlawanan NIIS tampak dari aksi mereka menghancurkan situs bersejarah Masjid Agung al-Nuri, di kawasan kota tua Mosul barat yang digunakan oleh pemimpin NIIS Abu Bakr al-Baghdadi memproklamasikan kekhalifahan kelompok ultra radikal itu pada 4 Juli 2014.
Sisa-sisa pasukan NIIS menghancurkan masjid dan menaranya sehingga rata dengan tanah diduga dengan tujuan agar tidak dijadikan simbul kemenangan oleh lawan-lawan mereka jika benteng perlawanan terakhir itu berhasil diambil alih lawan.
Sebaliknya, pihak NIIS mengklaim, masjid al-Nuri hancur akibat serangan udara pasukan koalisi dan tentara rezim Irak.
Sementara Komandan Satuan Anti Teror Irak (CTS) Mayor Jenderal Maan al-Saadi meyakini, pasukannya akan berhasil menguasai sisa-sisa kantong terakhir pertahanan NIIS di bagian kota tua Mosul dalam empat atau lima hari mendatang (sejak 30/6).
PM Irak Haider al-Abadi menyambut gembira diambil alihnya kembali kawasan Masjid Agung al-Nuri dan menara al-Habda oleh pasukan pemerintahnya.
Yang memprihatinkan, diperkirakan masih terdapat ribuan warga sipil di Mossul yang terperangkap di tengah berkecamuknya pertempuran antara pasukan pemerintah Irak dan NIIS atau sengaja dihalang-halangi meninggalkan kota karena digunakan oleh kelompok NIIS menjadi perisai manusia.
Sementara itu, pusat pertahanan terakhir NIIS di Raqqa, Suriah juga sedang mengalami tekanan berat dari milisi Pasukan Demokratik Suriah (SDF) didukung oleh pasukan pejuang suku Kurdi.
Karena posisi NIIS di Raqqa sudah terkepung dari berbagai arah oleh satuan SDF dan Kurdi, menurut Lembaga Pemantau HAM di Suriah, tidak ada pilihan bagi NIIS antara menyerah kalah atau bertempur habis-habisan.
Ambisi pembentukan khilafah di bawah panji-panji NIIS sebagai penguasa seluruh umat Islam di dunia dipicu antara lain oleh kekacauan situasi di Irak pasca penggulingan rezim Saddam Husein dan konflik berkepanjangan antara rezim petahana pimpinan Bashar al-Assad dengan oposisi di Suriah yang sudah menelan ratusan ribu korban jiwa dan menciptakan jutaan pengungsi.
Namun keruntuhan NIIS di basis utamanya di Irak dan Suriah, perlu diantisipasi, karena bisa saja mereka mengalihkan perlawanannya ke wilayah-wilayah lain di dunia.
Aksi kelompok Maute yang berafiliasi dengan NIIS di Marawi, Filipina yang masih berlangsung hingga saat ini, bisa saja sewaktu-waktu beralih ke wilayah Indonesia jika aktivitas mereka terdesak dari negeri tetangga itu. (AP/Reuters/NS)





