JAKARTA, KBKNEWS.id – Amerika Serikat dilaporkan mengirim kelompok kapal induk kedua, USS Gerald R. Ford, ke Timur Tengah sebagai bagian dari peningkatan tekanan terhadap Iran.
Meski demikian, Presiden Donald Trump menegaskan bahwa negosiasi dengan Teheran masih akan terus berlanjut.
Seorang pejabat senior pemerintahan dan sejumlah sumber yang mengetahui keputusan tersebut menyebut pengerahan ini bertujuan memberi opsi militer lebih luas jika jalur diplomasi tidak membuahkan hasil. Trump mengatakan kapal induk kedua dikirim sebagai langkah antisipasi apabila kesepakatan dengan Iran gagal dicapai, dan akan ditarik jika diplomasi berhasil.
USS Gerald R. Ford, kapal induk paling canggih milik Angkatan Laut AS, sebelumnya ditempatkan di Laut Karibia selama beberapa bulan.
Kini kapal tersebut akan bergabung dengan USS Abraham Lincoln di kawasan Timur Tengah, memperkuat kesiapan militer AS di wilayah yang sensitif terhadap potensi konflik dengan Iran.
Langkah ini dilakukan di tengah pernyataan Trump kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bahwa Washington tetap berniat mengejar kesepakatan dengan Iran. Trump juga menyebut harapannya untuk mencapai kesepakatan dalam waktu sekitar satu bulan, seraya memperingatkan adanya konsekuensi berat jika perundingan gagal.
Meski demikian, Trump belum menutup kemungkinan memerintahkan serangan baru dan telah menginstruksikan penumpukan aset militer yang dapat mendukung kampanye udara besar terhadap fasilitas nuklir dan rudal Iran.
Selain USS Abraham Lincoln, beberapa kapal perang AS lainnya telah ditempatkan di kawasan dan membentuk armada yang disebut Trump sebagai “flotilla”.
USS Abraham Lincoln sebelumnya tiba di Samudra Hindia dan kemudian beroperasi di Laut Arab, sekitar 500 mil dari pantai selatan Iran, termasuk menembak jatuh sebuah drone Iran saat melintas di wilayah tersebut.
Di sisi lain, delegasi AS dan Iran bertemu di Oman awal bulan ini dalam putaran pertama perundingan sejak serangan AS dan Israel terhadap Iran pada musim panas lalu. Perundingan berlangsung setelah Trump sempat mempertimbangkan aksi militer sebagai respons atas tindakan keras Iran terhadap demonstran.
Komando Selatan AS (SOUTHCOM) menegaskan perubahan penempatan kekuatan tidak akan mengurangi kemampuan operasi militer AS di Belahan Barat. Mereka menyatakan pasukan tetap siap memproyeksikan kekuatan, melindungi diri, dan menjaga kepentingan Amerika Serikat di kawasan.





