Hingar bingar kehidupan malam di Karang Dempel (KD), Kampung Alak, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) memasuki sunyi seiiring dengan meningginya matahari pagi. Satu-satu per satu Pekerja Seks Komersial (PSK) yang beragama muslim keluar dari kamar kosnya. Mereka menuju Mushalla Albarokah yang tidak jauh dari lokalisasi itu. Mushalla ini berdiri di antara rumah-rumah karaoke dan rumah penduduk yang memelihara babi. Terkadang sang pemilik babi membiarkan hewan peliharaannya lepas dan mencari makan di tempat sampah di samping rumah karaoke dan depan mushalla tempat PSK berkumpul dan mendengar pengajian.
Sabtu (10/2/2018) Majelis Taklim khusus ibu-ibu PSK ini, tidak mendengarkan ceramah ustad atau ustadzah seperti biasanya, tapi kali ini diisi dengan ceramah tentang kesehatan reproduksi. Lebih khusus, tentang kanker mulut rahim dan penyakit kelamin. Kegiatan ini diadakan oleh Dompet Dhuafa, sebagai bagian dari Road Show Charity Run Fest Cancer Awarnes and Prevention “Cancer Fighter” yang diadakan secara marathon dari Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah dan NTT.
Mereka terlihat antusias mengikuti acara ini, ketika dr. Imah dari Puskesmas Alak yang digandeng Dompet Dhuafa menyampaikan promosi kesehatan, banyak pertanyaan yang muncul dari ibu-ibu PSK yang sebagian besar sudah berusia paruh baya. Sehingga acara promosi kesehatan berlanjut hingga hampir zuhur, melewati beberapa jam dari yang direncanakan. Mereka sehabis mendengar promosi kesehatan tersebut, dijadwalkan akan mengikuti test dini pencegahan kanker mulut rahim dan kesehatan alat reproduksi lainnya melalui IVA (Inspeksi Visual Asam asetat) yang dilakukan tenaga kesehatan dan relawan Layanan Kesehatan Cuma-cuma Dompet Dhuafa (LKC-DD) NTT yang dipimpin drg. Martina Tirta Sari.
Menurut Halimah Fadillah, Penyuluh dari Kementerian Agama (Kemenag) Kecamatan Alak, majalis taklim ibu-ibu PSK ini sudah terbentuk sejak tahun 2013. Awalnya ia sangat sulit untuk masuk ke wilayah ini, banyak hal yang menjadi tantangan waktu itu; baik dari pemilik, PSK, preman dan masyarakat. Sebagai orang Alak, Fadillah merasa terpanggil untuk menyampaikan dakwah Islam kepada PSK yang beragama Islam pula. Apalagi negara sudah mengamanahkannya sebagai penyuluh agama Islam di bawah naungan Kemenag. Tapi untuk berdakwah di lokalisasi bukan persoalan mudah, karena ibarat kata usaha dakwah itu seperti menyampur minyak dengan air. Sangat sulit untuk menyatukan.
Namun akhirnya Fadillah dipertemukan Allah SWT dengan Ustad Tohir orang terpandang di Kampung Alak, ia sangat disegani siapapun termasuk oleh pemilik Diskotik, Lokalisasi dan Rumah Karaoke di Kampung Alak itu. Fadillah mendatangi Ustad Tohir dan menyampaikan maksudnya. Apa yang disampaikan Fadillah ternyata sesuai dengan harapan Ustad Tohir sejak lama. Dikatakannya, karena ia laki-laki, sangat susah mengakses ibu-ibu PSK di Lokalisasi KD itu. “Saya bersyukur ada ibu-ibu penyuluh dari Kemenag yang mau mendekati dan menyadarkan ibu-ibu yang ada di lokalisasi,” kata Ustad Tohir seperti diceritakan Fadillah.
Bersama Ustad Tohir, Fadillah mendatangi Pak Citro, Frans, Muhsin dan Yusuf para pemilik lokalisasi KD. Semua pemilik dari lokalisasi itu ternyata semuanya muslim dan tidak sulit bagi ustad Tohir untuk mendekati mereka. Setelah melakukan pendekatan kepada pemiliki lokalisasi akhirnya Fadillah diberikan kesempatan untuk mendekati ibu-ibu PSK dari kamar ke kamar. Untuk dakwah ke sana Fadillah tidak berani sendiri ia datang bersama tim yang berjumlah 7 orang. Hasil dari kunjungan Fadillah akhirnya terbentuklah majelis taklim.
“Awalnya kita berkumpul di Taman Pendidikan Quran (TPQ) Riyadhul Ulum untuk anak-anak Kampung Alak, di sana majelis taklim dimulai. Majelis Taklimnya pun dinamakan Riyadhul Ulum. Kalau anak-anak TPQ belajar sore, makanya setiap Senin Pagi, Pukul 9.30 s.d 12.00 WIB dilaksanakan majelis taklim ibu-ibu PSK. Lambat-laun pesertanya, semakin banyak sehingga tidak muat lagi untuk kegiatan pengajian,” jelas Fadillah.
Fadillah pun mencari akal untuk bisa mencari solusinya. Alhamdulillah, ada Kamto salah seorang pemilik Diskotik yang beragama Islam ia pun memilik Yayasan Albarokah. Ia pun mewakafkan tanahnya di samping karaokenya. Setelah menerima wakaf itu, tantangan Fadillah adalah membangun lahan itu menjadi sebuah mushalla atau tempat pertemuan untuk majelis taklim. Setelah Fadillah melaporkan wakaf tanah itu ke kantornya, akhirnya dari Kemenang digelontorkan dana untuk membangun mushalla tahun 2016.
“Jadi sejak 2016, Majelis Taklim Riyadhul Ulum pindah ke Mushalla Albarokah,” tutur Fadillah.
Dari majelis taklim ini ibu-ibu PSK Lokalisasi KD belajar agama Islam lebih dalam. Mereka yang sebagian besar putus sekolah bahkan tidak pernah mengenyam sekolah, mulai belajar Islam di sini. Mereka mulai mengaji, shalat dan mendapatkan wawasan ibadah lainnya. Mereka senang bershalawat, bahkan tidak sedikit yang menangis ketika melantukan puji-pujian kepada Rasulullah SAW.
Menurut Fadillah banyak yang sudah sadar dan dapat hidayah dan pulang ke kampung halamannya. Dari 4 titik lokalisasi di KD, kata Fadillah, diisi sekitar 200 orang yang kebanyakan asal dari Jawa Timur, Mataram, Bima dan Bali. “Ada juga dari NTB dan NTT,” namun jumlahnya tidak banyak.
Namun lanjut Fadillah, setiap ada yang pulang ada saja yang datang sebagai pengganti. Akibatnya, pekerjaan penyuluhan agama Islam tidak akan pernah habisnya. Suatu hal yang disyukuri oleh Fadillah adalah kegiatan Majelis Taklim sekarang sudah didukung oleh para pemilik Lokalisasi, siapa yang tidak datang maka akan kena denda Rp100.000 oleh pemilik, tidak mau bayar maka akan keluar dari kamar.
“Pemilik lokalisasi itu melakukan itu sebagai bentuk dakwah bil halnya, sebagai penyeimbang dari keburukan yang dilakukan dengan memfasilitasi kemaksiatan itu. Ia ingin ada amal baiknya juga, jangan hanya amal buruk saja,” ungkap Fadillah.
Bagi Fadillah adanya kesadaran dari pemilik lokalisasi itu sudah bagus, sehingga ia dan tim tetap dapat menyampaikan dakwah. “Kita hanya berikhtiar urusan hidayah, biarlah Allah yang akan membolak-balikan hati para PSK itu. Mereka hadir di majelis taklim mendengar pengajian, praktik ibadah, baca Al Quran, Shalawat dan berdoa sambil menangis, itu sudah sangat luar biasa. Dari pada membiarkan mereka selalu bergelimang dengan kemaksiatan,” terang Fadillah.
Salah satu PSK, sebut saja namanya bunga, 55 tahun, meninggalkan anak di kampung halaman NTB, suami sudah meninggal, dua anak masih sekolah dan anak pertama sudah menjadi guru pegawai negeri. Menjadi PSK dengan alasan ekonomi dan dijebak teman yang mengajak kerja keluar kota untuk menjadi Asisten Rumah Tangga ke Kalimantan ternyata dibawa ke Lokalisasi KD. Akhirnya ia terpaksa menyesuaikan diri karena harus segera menghasilkan uang dan membayar hutang.
Bunga baru 6 bulan tinggal di sana dan aktif di majelis taklim, setiap malam ia mengaku meratap karena takut pada azab. Tapi dia tetap tidak bisa lari dari kenyataan, karena ia tidak mungkin mau membebani anaknya untuk melunasi hutang-hutangnya dan beban hidupnya di hari tua. Namun ia berniat Ramadhan 2018 ini akan pulang kampung dan meninggalkan pekerjaan hitamnya saat ini. Dia mengaku anak-anaknya tidak tahu ia berkerja seperti itu, ia hanya mengaku kepada anak-anaknya berkerja di Kalimantan sebagai Asisten Rumah Tangga seperti awal ia berangkat dari kampung halaman.
Fenomena Bunga di Lokalisasi KD hampir merata dialami mayoritas PSK beragama Islam, beberapa PSK yang ditanyakan tentang Azab Allah Swt mereka mengaku takut dan tahu bahwa perbuatannya sangat buruk kalau dinilai dari sisi manapun. Tapi alasan ekonomi membuat mereka belum bisa meninggalkan dunia kelam itu. Dan kalau ada yang berupaya mengeluarkan mereka dari perbudakan nafsu itu, tentu penuh konsekwensi, harus mampu membantu ia berdaya secara ekonomi dan terbebas dari hutang dan masalah yang meliputi mereka.
Karena itu pula dengan kehadiran Dompet Dhuafa di Lokalisasi KD, bagi Fadillah membawa angin segar untuk bisa bersinergi membebaskan para PSK dari belenggu yang merantainya. “Saya harap tidak hanya pemeriksaan dini kanker serviks saja, tapi bantu kami untuk membebaskan mereka dari belenggu lainnya baik ekonomi dan pemberdayaan, ” pungkas Fadillah.
Fadillah sangat menyayangkan karena rata-rata di lokalisasi sebagian besar berusia lanjut, karena yang muda-muda lebih suka menjadi pendamping tamu minum di diskotik dan kalau ada yang jadi PSK mereka ke hotel-hotel bersama tamunya. Kalau yang muda-muda ini sulit dijangkau oleh tim penyuluh.





