Khawatir Vaksin Palsu, Seorang Ibu Pilih Vaksin di Puskesmas

Ilustras

DEPOK – Meskipun pemerintah sudah mengumumkan 14 rumah sakit yang terkait peredaran vaksin palsu, namun para orangtua yang tidak memvaksin anaknya di tempat-tempat tersebut pun ikut diselimuti kekhawatiran.

Misalnya saja di Kota Depok, Jawa Barat, yang tidak terindikasi menjadi daerah peredaran vaksin palsu. Alfiah (29) mengaku takut anaknya juga menjadi korban vaksin palsu.

“Dulu waktu anak saya baru lahir awal-awal saya vaksin di rumah sakit tempat ia lahiran, lanjut sampai umur sembilanan bulan, pas setelah campak akhirnya karena tahu dari tetangga-tetangga kalau harga imunisasi di bidan lebih murah ya udah akhirnya lanjut di bidan aja seterusnya. Tapi pas dipikir-pikir sekarang ada berita kayak gini jadi ngeri jangan-jangan harga lebih murah bisa aja palsu,” tuturnya, saat ditemui di Rumah Sakit Hermina Depok, Senin (18/7/2016).

Ia juga mengaku tetap khawatir meski Depok tidak ada di daftar wilayah penyebaran vaksin palsu, “Ya bisa aja bidan-bidan disini belinya dari mana kan nggak jelas, kita nggak tahu,” tambahnya.

Apalagi ia mengaku anaknya pernah terkena batuk rejan lumayan parah, padahal antisipasi penyakit tersebut sudah terkandung dalam imunisasi DPT. “Anak saya pernah batuk rejan sampai parah, waktu itu saya heran padahal sudah diimun DPT, tapi karena kata dokter tergantung kekebalan tubuh seseorang dan vaksin hanya bisa mengurangi bukan mencegah jadi ya udah,” bebernya.

Senada dengan Alfiah, Heni (38) yang bertempat tinggal di kawasan Beji, Depok juga mengkhawatirkan adanya pihak-pihak yang memakai vaksin palsu di daerah sekitarnya. Bahkan ia lebih memilih untuk vaksin anaknya di puskesmas karena gratis dan lebih terjamin.

“Pokoknya kalau buat saya mah sekarang lebih baik imunisasi yang wajib aja dan di puskesmas lah lebih baik, terjamin, dan gratis pula, mau apa lagi coba, kalau nggak ya ke posyandu aja, itu udah pasti juga dari pemerintah penyebarannya,daripada ke rumah sakit harganya mahal tau-tau palsu” tegas ibu dua anak ini.

Diberitakan sebelumnya, Sekjen Kementerian Kesehatan , Untung Sutardjo pernah mengungkapkan bahwa penyaluran vaksin dari pemerintah terjamin hingga ke bawah karena menggunakan sistem cold chain atau rantai dingin dimana penyaluran dari provinsi ke kabupaten hingga ke puskesmas-puskesmas aman.

“Kalau rumah sakit pemerintah langsung membeli dari Biofarma, tidak melalui penyalur manapun, dan tidak mungkin membeli eceran. Mungkin yang perlu waspada adalah masyarakat yang menggunakan fasilitas kesehatan swasta,” kata Untung.

Seperti diketahui, ada 12 jenis vaksin palsu yang telah diedarkan yakni Vaksin Engerix B, Vaksin Pediacel, Vaksin Eruvax B, Vaksin Tripacel, Vaksin PPDRT23, Vaksin Penta-Bio, Vaksin TT, Vaksin Campak, Vaksin Hepatitis, Vaksin Polio bOPV, Vaksin BCG, Vaksin Harvix.

Advertisement