Kiat India Mengatasi Kelangkaan Oksigen

INDIA  berhasil menekan penyebaran Covid-19 jauh lebih rendah dibandingkan puncak pandemi awal Mei lalu dengan melakukan lockdown ketat di sejumlah kota, vaksinasi massal dan menangani kelangkaan oksigen

Khusus untuk mengatasi kelangkaan oksigen yang dibutuhkan untuk “menyambung” nafas korban Covid-19, Guru Besar Fakultas Kedokteran UI, Tjandra Yoga Aditama menyarankan, Indonesia dapat belajar dari India.

Menurut mantan Direktur Penyakit  Menular Organisasi Kesehatan Asia Tenggara Badan Kesehatan Dunia (WHO SEARO) tersebut, ada lima hal yang dilakukan India saat terjadi kelangkaan oksigen.

Menjelang puncak pandemi, pemerintah India melarang penggunaan oksigen cair untuk kepentingan nonkesehatan, pelaksanaannya diawasi amat ketat. Industri lain tidak boleh menggunakannya tanpa kecuali.

Lalu dilakukan pemasangan Medical Oxygen Generator Plant, yaitu perangkat mesin produksi oksigen untuk kebutuhan medis darurat di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan atau rumah sakit.

Proses pengiriman  oksigen ipercepat dengan menyediakan moda angkutan KA Express Pengangkutan Oksigen bebas hambatan dan kemacetan lalul lintas untuk mendistribusikannya ke berbagai daerah.

Sedangkan pendistribusian oksigen untuk memenuhi kebutuhan warga,  melibatkan peran berbagai LSM misalnya Hemkunt Foundation yang memiliki 150 relawan, melayani sekitar 15 ribu panggilan telpon, layanan oksigen “drive-through”.

Kemudian, selain konsentrator oksigen yang diseiakan oleh perusahaan Sewa International,  otoritas India juga menerima bantuan oksigen dari negara lain termasuk Indonesia.

Bantuan sebanyak 1.100 tabung oksigen dikirimkan oleh Amerika serikat, oksigen cair dari Perancis, dan konsentrator oksigen didatangkan dari Iggeris. Kelangkaan oksigen juga diatasi dengan menyelesaikan pangkal persoalannya yakni menekan jumlah orang sakit.

Negara bagian lain menggunakan pembatasan sosial yang bervariasi sesuai pola epidemiologisnya masing-masing. Karena itu, laju penularan Covid-19 di masyarakat dapat ditekan.

Turun Drastis

Angka penambahan harian orang terpapar Covid-19 yang pernah mencapai 412.000 kasus awal Mei lalu dan 4.500 kematian dalam sehari berhasil ditekan sehingga kini di bawah kisaran  10.000 kasus dan hanya puluhan yang meninggal.

Pandemi Covid-19 menjadikan wajah India sangat mengerikan, ditandai  penuh sesaknya pusat-pusat layanan kesehatan, kremasi jasad korban dilakukan di ruang-ruang terbuka dan bahkan ratusan jenasah dibuang begitu saja di Sungai Gangga.

Selain melockdown total kota-kota yang padat penduduk seperti New Delhi dan Mumbai dan di sejumlah negara bagian lainnya, vaksinasi untuk menciptakan “herd immunity” bagi 70 persen dari total 1,3 milyar penduduk juga dikebut dengan mengerahkan jutaan relawan.

“Cukup banyak negara bagian India dan kota besar seperti New Delhi  dan Mumbai yang melakukan lockdown ketat sehingga mobilitas penduduk amat dibatasi,” ucapnya.

Testing dilakukan terhadap sekitar dua juta orang per hari dan  vaksinasi menjangkau delapan juta orang per hari. Jumlah  amat besar jika dibandingkan dengan Indonesia yang jumlah tes hariannya masih sekitar 100-ribuan bahkan sering di bawahnya.

Indonesia sendiri saat ini sedang menghadapi har-hari kritis lonjakan penyebaran Covid-19 ditandai dengan pemecahan rekor hari demi hari, pada Rabu (7/7) tercatat penambahan tertinggi dengan 34.205 kasus positif Covid-19 dan 1.104 orang meninggal.

PPKM Darurat yang diberlakukan di 122 Kabupaten dan kota se-Jawa Bali dan PPKM Mikro Diperketat di 43 kabupaten dan kota di luar Jawa sampai 20 Juli nanti jadi pertaruhan apakah Indonesia mampu keluar dari krisis pandemi.

Jika gagal, ambruknya sistem pelayanan kesehatan yang “over capacity”, para nakes terutama dokter dan perawat yang kelelahan dan bertumbangan, juga kelangkaan oksigen dan obat-obatan, belum lagi jutaan warga yang kehilangan nafkah, semua sudah di depan mata.

 

 

Advertisement