Kiat Santai Swedia Menaklukkan Covid-19

Swedia tidak memberlakukan lockdown atau PSBB karena kesadaran dan disiplin warganya sudah sangat tinggi mematuhi protokol kesehatan untuk menghindari paparan Covid-19

SWEDIA, dikenal dengan caranya yang paling santai melawan  penyebaran virus corona baru SARS-CoV-2 penyebab Covid-19, tanpa kebijakan lockdown, ternyata mampu mengendalikan virus ganas itu.

Pada saat kasus-kasus paparan Covid-19 di sejumlah negara tetangganya melonjak, kasus paparan virus tersebut di Swedia yang pernah mencapai tertinggi di Eropa malah turun, jauh lebih rendah ketimbang di Inggeris, Spanyol dan Perancis.

Seperti dikutip the Daily Mail (11/9), pada uji swab test yang dilakukan pekan lalu, hanya 1,2 persen warga positif terpapar Covid-19 atau terendah sejak awal pandemi sehingga saat ini statusnya sebagai negeri yang masuk daftar karantina oleh Inggeris dicabut.

Sebagai perbandingan, DKI Jakarta yang dilockdown (dengan PSBB) sejak 10 April sampai 3 Juni, dilanjutkan lima kali perpanjangan PSBB Transisi dengan pelonggaran kegiatan publik dan usaha (4 Juni – 13 Sept.), balik lagi ke PSBB ketat (14 – 27 Sept.), namun korban Covid-19 terus melonjak.

Sementara Swedia, saat kurva kasus Covid-19 berada di puncaknya pun  tidak ada lockdown (PSBB). Rakyat tidak harus tinggal di rumah, murid-murid tetap bersekolah dan restoran pun tetap ramai melayani tamu untuk bersantap.

Pakar epidemiologi di negara Nordik itu juga menganggap, mengenakan  masker bukan  cara efektif mencegah penularan virus, dan meyakini  lockdown total tidak bakal mampu mencegah kematian demi kematian akibat Covid-19.

Bedanya, rakyat Swedia selalu mencuci tangan dan melakukan  “social distancing”, sementara tingkat kepercayaan pemerintah pada mereka juga sangat tinggi, sehingga aksi pencegahan Covid-19 dilakukan sukarela, namun mereka tetap patuh walau anjuran untuk tinggal di rumah bakal berlangsung lama.

Semula Tertinggi di Eropa

Tingkat positif kasus infeksi Covid-19 di Swedia tertinggi di Eropa pada pertengahan Juni lalu yang berdasarkan hasil skrining, lebih dari 1.000 orang positif corona per hari.

Saat itu tercatat rata-rata 101 kasus paparan Covid-19 per 1 juta orang per hari selama sepekan di Swedia, sedangkan angka kasus tertinggi berikutnya menyusul Belarus dengan 79 kasus.

Jika angka kematian akibat Covid-19 di Swedia tertinggi selama April yakni 5.843 orang atau masih lebih banyak ari jumlah korban di seluruh  negara Nordik (Norwegia, Denmark, dan Finlandia), situasinya berbalik total tiga bulan kemudian.

Swedia mengumumkan 7.131 kasus baru pada Agustus, turun dari 11.971 kasus dibandingkan Juli sebelumnya dan 30.909 kasus pada  Juni.

Sebagai perbandingan, tingkat paparan Covid-19 tertinggi di Eropa Barat saat ini dialami Spanyol (200 kasus per 1 juta orang),  Perancis (118), sementara  Swedia jauh di bawahnya, dengan 17 kasus per 1 juta warganya.

“Tujuan pendekatan kami adalah agar warga sendiri yang sadar untuk mematuhi rekomendasi yang disampaikan, “ kata kepala badan kesehatan setempat, Johan Carlson.

Tentu yang dilakukan di Swedia tidak bisa diterapkan di negeri ini karena rendahnya literasi masyarakat tentang kesehatan yang pada gilirannya berkaitan erat dengan disiplin mematuhi protokol kesehatan.

Tidak hanya itu, kompleksitas persoalan juga mendera negeri ini, seperti relatif lebih tebalnya kepercyaan rakyat pada tokoh panutan atau pemuka agama, padahal ada diantara mereka malah memprovokasi rakyat untuk membangkang.

Ironisnya lagi, musibah Covid-19 jika dimanfaatkan sebagian politisi sebagai panggung menuju kekuasaan dengan mencari-cari kelemahan atau menstigma buruk apa pun yang dilakukan pemerintah, bahkan lebih jauh lagi, ada yang menggunakan isu sensitif SARA dan hoaks.

Lain padang, lain belalang, lain lubuk lain ikannya, “ ungkap pepatah lawas, namun apa yang dilakukan Swedia agaknya pantas direnungkan bersama. Jika baik, apa salahnya ditiru? (Kompas.com/NS)

 

 

 

Advertisement