JAKARTA – Jatuh bangun sebagai penjual bakso sudah dirasakan Joni Armadi Mingun (52), yang sudah berpindah-pindah kota untuk mencoba peruntungannya.
Tahun 1984 dia mulai hijrah dari Wonogiri ke asar Minggu Jakarta Selatan, Joni bekerja di bengkel. Setahun kemudian membuka usaha bengkelnya sendiri tetapi sepi pelanggan.
Akhirnya, dunia perbengkelan ia tinggalkan. Joni beralih, kali ini tekadnya adalah berdagang bakso di Wonogiri.
“Dagang bakso di Wonogiri gagal, di Kranji gagal, di Cirebon gagal, di Pondok Cabe juga gagal”, ungkap Joni.
Joni pun putuskan kembali ke Pasar Minggu, berdagang bakso di sana. Namun tidak mangkal, ia keliling menggunakan gerobak kayu. “Gerak, jemput bola,” ucapnya.
Kemudian pada 2004, Joni bertemu tim KMM (Karya Masyarakat Mandiri) Dompet Dhuafa, yang sedang melakukan assesment program ‘Pedagang Tangguh’ ke-3 bersama Miwon kala itu.
Joni pun bergegas menyiapkan beberapa berkas data administrasi untuk menyertakan diri di program tersebut. Ia merasa perlu mendapatkan wawasan baru dari pelatihan-pelatihan yang digelar. Menurut Joni, banyak anggota pedagang tangguh yang berhasil.
“Waktu itu acaranya di tempat Miwon, sekaligus pendistribusian paket bantuannya. Jadi kami para pedagang mengambil gerobak bantuannya di daerah Cakung, Jakarta Timur. Ada sebanyak 104 gerobak. Sebagian bawa pulang pakai mobil, yang lain karena senangnya, gerobak di bawa dorong sendiri konvoi beramai-ramai dari Cakung,” kenang Joni, menggebu, dilansir dompetdhuafa.org.
Dengan tekadnya yang kuat dan tak mudah menyerah, kini Joni mampu menguliahkan anaknya hingga ke jenjang S1.





