JAKARTA, KBKNEWS.id – Joko Sujatmiko, bukanlah siapa-siapa dan hanya warga biasa yang sehari-hari hanya menjaga warung kecil di pinggir Pantai Soge, Desa Sidomulyo, Pacitan, Jawa Timur.
Namun, kecintaannya terhadap laut dan penyu menjadikan ia sosok yang luar biasa. Kecintaannya membuat Pak Joko tak pernah lelah setiap malam menyusuri garis pantai dalam gelap, untuk menembus hamparan pasir, dan memeriksa setiap jengkal yang mungkin saja menjadi tempat penyu bertelur.
Dia pun kerap mendatangi orang-orang yang sedang berburu menggali gundukan pasir berisi puluhan telur penyu untuk dibawa pulang dan dimasak. Jika hal tersebut didapatinya, Pak Joko akan menasihati para pemburu untuk tidak mengambil telur-telur penyu.
Bahkan, Pak Joko rela menyodorkan uang selembar pecahan lima puluh ribu rupiah ke orang-orang itu, asalkan mereka menyerahkan telur-telur penyu itu kepadanya. Setelah menebus telur-telur itu, Pak Joko akan membawanya ke tempat penangkaran penyu di Kota Pacitan.
Pak Joko rela melakukan semuanya karena menurutnya penyu merupakan hewan yang sensitif terhadap gangguan di sekitarnya—gangguan terhadap cahaya, getaran, ataupun suara. Saat ini daerah sekitar Pantai Soge semakin ramai.
Pantai Soge merupakan pantai yang ramai, dan selalu dilalui mobil atau motor yang tak henti berlalu lalang. Pada malam hari lampu-lampu neon menerangi pantai sepanjang malam. Semua itu menjadi gangguan untuk penyu yang sedang bertelur.
“Akhirnya di saat penyu mau bertelur, penyu nggak jadi karena terganggu dan terancam. Dia pergi lagi ke laut. Satu minggu setelahnya dia balik lagi ke pantai untuk bertelur, nah, saat itu telurnya sudah mengandung racun. Akhirnya jika itu dikonsumsi bisa mematikan satu keluarga, jika dimakan oleh satu keluarga,” cerita Pak Joko.
Namun kini Pak Joko beruntung karena tidak lagi repot-repot menuju Kota Pacitan untuk mengarantina telur penyu. Sebab di Pantai Soge, beberapa meter dari warungnya, terdapat tempat konservasi penyu yang didirikan oleh DMC Dompet Dhuafa yang diresmikan pada tahun 2024 lalu.
Berdasarkan pengalaman, kegigihan dan kecintaannya pada penyu, Pak Joko dipercaya mengelola tempat konservasi tersebut. Di tempat konservasi penyu DMC Dompet Dhuafa, Pak Joko telah merawat ratusan telur penyu dan menetaskan bayi tukik.
“Di sini, selama tahun 2025, Alhamdulillah kita sudah menetaskan sekitar 600 telur penyu. Dan bulan depan (sekitar bulan Juli) kita akan menetaskan sekitar 200 lebih telur,” cerita Pak Joko.
Tak hanya merawat dan menetaskan telur, ia juga merawat induk penyu yang sakit dan perlu pertolongan. “Induk penyu yang sakit itu sebenarnya penyu yang terdampar di pantai. Penyu itu sakit. Jadi kita karantina dulu, nanti kalau kita kasih makan dan sudah bisa makan banyak baru kita rilis/lepas lagi (ke laut),” ujar Pak Joko.
Hadirnya DMC Dompet Dhuafa mendirikan tempat konservasi penyu di Pantai Soge membuat Pak Joko senang. Setelah adanya tempat konservasi ia telah melepaskan ratusan tukik di Pantai Soge.
Pak Joko percaya, ratusan tukik itu kelak akan kembali ke tempat asalnya, dan ia berharap, upaya ini dapat memastikan penyu tetap lestari dan berlipat ganda, agar generasi mendatang masih bisa menyaksikan keindahan mereka.




