Kisah Penderita Diare, Kini Hidup dengan Tulang Berbalut Kulit

JAKARTA – Tubuhnya terkulai lemas. Sejak terserang diare pada pertengahan Desember 2017 lalu, Kahfi Zulanam hanya bisa terbaring di atas kasur busa. Untuk sekedar menggeser posisi tidur saja bocah berusia empat belas tahun itu mesti dibantu oleh ayahnya, Ahmad Sardini.

Tubunya yang hanya tulang berbalut kulit, membuat Kahfi semakin tersiksa. Untuk kebutuhan makan, minum dan lain sebagainya Kahfi mesti dibantu Ahmad. Karena diare setiap hari anak bungsu dari dua bersaudara itu mesti ganti pempers tiap 3 jam sekali.

Setiap gerakan merupakan penyiksaan bagi Kahfi karena ia mesti menahan sakit akibat hanya tulang yang melekat pada dirinya. Praktis hanya televisi tabung yang menjadi teman hari-hari Kahfi.

Menurut Ahmad, Kahfi yang kini kelas 3 SMP itu mulai terserang diare saat ia sedang mengikuti ujian semester. Karena kondisinya semakin memburuk akhirnya Kahfi dilarikan ke RSUD Tangerang.

Setelah menjalani perawatan selama 3 pekan, dengan berat hati Ahmad mesti memulangkan Kahfi meski kondisinya belum sembuh karena terbentur biaya pengobatan, Ahmad tercatat sudah menunggak BPJS sebesar Rp 2,6 juta. Berat badan Kahfi yang tadinya 58 Kg kini merosot hingga 26 Kg.

“Kata pihak RSUD Kahfi didagnosis TB dan gizi buruk, tapi saya kurang yakin,” ujar warga Kampung Teriti RT 03/04 Desa Karet, Kecamatan Sepatan, Kabupaten Tangerang itu.

Kesehariannya Ahmad hanya berporfesi sebagai tukang roti. setiap hari ia hanya mampu memproduksi roti sebanyak 50 buah dengan keuntungan Rp 100 ribu per hari. Sedangkan ibunda Kahfi, Nikmah berprovesi sebagai buruh konveksi dengan penghasilan per hari RP 50 ribu.

Sejak Kahfi sakit, kini hanya Nikmah yang menjadi ujung tombak keluarga. Ahmad tak mampu lagi berjualan karena harus mengurusi Kahfi yang lemah tak berdaya. Di tengah keterbatasan itu, Ahmad mesti putar otak.

Ahmad ingin sekali melanjutkan pengobatan Kahfi, namun terbentur pembiayaan. Namun bila terus di rumah tabungan Ahmad juga kian menipis karena mesti membeli pempers untuk Kahfi. Bantuan dari puskesmas berupa susu penggemuk badan pun bagi Ahmad belum bisa menutup apa yang dibutuhkan Kahfi.

“Makanan yang masuk ke Kahfi harus dipilah, karena bila tidak Kahfi bisa muntah,” tambahnya.

Kurtubi dari tim surveyor Layanan Kesehatan Cuma-cuma (LKC) Dompet Dhuafa menuturkan, guna memberikan respon terhadap Kahfi pihaknya telah mengirimkan bantuan pempers dan kebutuhan pokok. Menurut penjelasan Ahmad kepada Kurtubi, di sekolah Kahfi merupakan pribadi yang pandai. Ia tergolong murid yang cerdas karena selalu mendapat peringkat tiga besar.

Kurtubi menambahkan pada tanggal 17 Januari, Kahfi juga telah mendapat perhatian dari DPRD Tangerang berupa pelunasan tunggakan BPJS dan kembali menjalani rawat inap di RS Siloam, Tangerang.

Advertisement