
PROTES massa yang memasuki hari keempat (sampai Kamis 13/8) belum reda di ibukota Belarus, Minsk pasca terpilihnya kembali untuk keenam kalinya, Presiden Alexander Lukashenko yang berkuasa sejak 1994.
Lukashenko yang dijuluki sebagai diktator terakhir di daratan Eropa menang mutlak dengan meraup 80,23 persen suara dalam pilpres yang digelar, Minggu (9/8), sementara lawannya, ibu rumah tangga (37 tahun), Svetlana Tishnakovskaya hanya kebagian 9,9 persen suara.
“Saya meyakini penglihatan saya, mayoritas suara masih bersama kami, “ ujar Lukashenko dengan jumawa usai pengumuman hasil pilpres, Minggu malam .
Sementara Svetlana yang suaminya, penulis blog anti pemerintah yang mendekam di bui, dikabarkan lari ke Lithuania, tetangganya, negara sempalan Uni Soviet di Laut Baltik yang kini menjadi anggota NATO.
Hasil Pilpres tersebut berujung aksi-aksi protes yang memakan korban jiwa, paling tidak dua orang dilaporkan tewas, dua ratusan pengunjuk rasa mengalami luka-luka dan 6.000-an diciduk polisi.
Bersenjatakan granat kejut, gas air mata dan pentungan, satuan huru-hara mencoba menghalau kumpulan massa di Minsk dan sejumlah kota yang melempari batu-batu dan kembang api, memprotes hasil pilpres.
“Ini aksi protes damai, dan kami sama sekali tidak melakukan kekerasan,” kata pengunjukrasa berusia 23 tahun Pavel Konoplyanik sambil melarikan temannya ke rumah sakit untuk mencabut pecahan granat plastik yang menusuk lehernya.
“Tidak bakal ada yang percaya dengan hasil resmi yang diumumkan pemerintah. Mereka mencuri kemenangan kami,” ujar demonstran berusia 23 tahun tersebut.
Sementara pendukung Alexander Lukashenko, Igor Rozhov, mengklaim Belarusia membutuhkan sosok yang kuat seperti Lukashenko. “Dia politisi kawakan, “ ujarnya.
Dilaporkan terjadi penyiksaan terhadap para penentang Lukashenko seperti direkam oleh @euroradio dan diretweet oleh jurnalis Ukraina, Maksym Erstavi yang memperdengarkan suara teriakan para tahanan di rumah penyiksaan Akrestina di Minsk.
“Warga di sekitar lokasi mengatakan suara itu terus berlanjut sepanjang malam. Ribuan orang ditahan di sel seperti ini di seluruh Belarusia. Ini adalah borok pengadilan, “ ujarnya.
Sementara Nikita Telizhenko dari situs berita Znak.com Rusia yang mengaku mendekam di penjara Minsk tiga hari seperti dikutip Daily Mail (13/8) mengungkapkan, di penjara para tahanan berbaring saling tindih satu sama lain, di tengah lantai yang digenangi darah dan kotoran manusia.
“Vox Populi Vox Dei” atau “Suara Rakyat adalah Suara Tuhan”, ungkap pameo lama. Tinggal menunggu waktu, cepat atau lambat sang diktator pasti tumbang (Berbagai sumber/ns)




