SEBANYAK 15 santriwati di Ponpes Aldjalil-2 Jember, menjalani pemeriksaan oleh polisi Polres Jember. Apakah mereka membawa HP android ke ruang kelas? Ternyata bukan! Pemeriksaan itu berkaitan dengan dugaan pencabulan oleh Kiyai FM pemilik pesantren. Jika ternyata benar, Masya Allah…… rupanya kasus Hery Wirawan Bandung yang sampai divonis hukuman mati, tidak juga bikin jera oknum ustadz yang berbuat asusila pada santri-santrinya.
Kisah ini bermula dari laporan istri Kyai FM ke Unit PPA (Perlindungan Perempuan dan Anak) Polres Jember bahwa suaminya malam-malam suka panggil sejumlah santriwatinya ke kamar khusus. Dari rekaman CCTV yang berhasil diperolehnya, ternyata para santriwati itu dicabuli. Perlu diketahui kamar khusus tersebut sangat rahasia. Kata istri Kiyai tersebut, untuk masuk kamar itu pakai kunci elektrik yang baru bisa dibuka pakai password.
Banyak orang berharap, dengan dihukum matinya Hery Wirawan pemilik pesantren di Bandung, dan baru saja kasasinya di MA ditolak, akan kapoklah oknum ustadz dan pemilik ponpes mencabuli para santriwatinya. Sebab kisah Hery Wirawan ini memang bikin bulu kuduk berdiri. Tak kurang dari 12 santriwati diperkosa sampai hamil, bahkan ada yang punya anak.
Ternyata vonis mati untuk Hery Wirawan tidak ngefek, sebab setelah pemilik pesantren Madani Boarding School itu divonis mati oleh PN Bandung, kasus-kasus ustadz cabul tetap saja bermunculan. Bahkan jika dilihat di Mbah Google, begitu banyak ustadz dan kiyai terlibat pencabulan pada sejumlah santrinya.
Pencabulan itu bermakna luas. Meraba-raba perempuan yang bukan istrinya, sudah termasuk tindakan cabul. Apa lagi bila sampai tindakan berhubungan intim bak suami istri, itu sudah super dari pada cabul. Ibarat bangunan rumah, duduk-duduk di teras saja dilarang, kok malah langsung masuk dalam rumah.
Seks atau syahwat itu karunia Illahi, nikmatnya tiada tara bahkan ada yang mengistilahkan surga dunia. Setiap makhluk bernyawa diberi kenikmatan semacam itu, sehingga makhluk bisa berkembang biak di muka bumi. Coba jika seks itu menyakitkan, niscaya makhluk penghuni bumi sudah lama punah.
Namun demikian kenikmatan seks itu bagi manusia tidak bisa diperoleh sembarangan. Hukum Allah (agama) dan hukum negara mengaturnya, sehingga seks itu hanya bisa dinikmati oleh suami istri. Hanya hewan yang tidak diaturnya. Maka orang-orang yang melakukan seks seperti hewan, bisa disebut kumpul kebo.
Pelanggaran-pelanggaran seks itu juga ada ancamannya. Bagi umat Islam sudah digariskan dalam Qur’an surat Al Isra ayat 32, jangan kau dekati zina! Nah, bagi para ustadz dan kiyai pasti tahu sekali soal ini. Tapi kenapa justru mereka dewasa ini banyak yang melakukannya? Memangnya kalau para pemuka agama ini memperoleh dispensasi? Ya enggaklah, justru sudah tahu malah melanggar, itu adzabun syadid (siksa yang pedih).
Mengapa iman bisa kalah dengan “si imin”? Mungkin setan yang turun untuk menggoda para ustadz dan kiyai itu sudah lulusan S3 Amerika. Dengan demikian meski sudah bergelar ustadz dan kiyai pun masih bisa dipengaruhi setan. Dan ternyata, tak banyak orang bisa kuat mentalnya seperti Nabi Yusuf. Meski Siti Zulaikha sudah ngepleh-epleh (pasrah), Nabi Yusuf pun bergeming.
Rupanya para uztadz dan oknum kiyai itu gagal meniru Nabi Yusuf, dia baru kelas si Usup yang suka menyelusup, yakni masuk ke kamar yang bukan haknya. Dan terjadilah kemudian perbuatan zina oleh orang-orang yang mengerti agama. Bagi mereka, meski tahu bahwa perilaku zina itu larangan agama, dianggapnya halalan tayiban wa asyikan!
Gus Baha (Kiai Ahmad Bahauddin Nursalim) pemikir Islam dari NU justru menganggap bagus tentang terungkapnya skandal ustadz dan oknum kiyai itu. Maksudnya bagus adalah, justru berbahaya ketika ada kiai zina, umat Islam malah mengalahkan Quran dengan menganggap kejadian seperti itu tidak apa-apa karena dia seorang kiai. Karenanya Gus Baha justru memperingatkan bahwa umat Islam itu harus beriman pada Alquran bukan ke kiai. (Cantrik Metaram)





