
SETELAH melalui putaran ke-15, baru akhirnya Ketua Fraksi Partai Republik (F-PR), Kevin McCarthy memenangi pemungutan suara untuk menjabat ketua DPR (House of Representatives) Amerika Serikat, Sabtu (7/1).
PR, pemegang kursi mayoritas di DPR dalam Pemilu sela November 2022 harus bersaing dengan Fraksi Partai Demokrat (F-PD) memperebutkan kursi Ketua DPR Nancy Pelocy yang mengakhiri jabatannya 3 Jan. lalu.
Menutut catatan, anggota termasuk Ketua DPR AS menjabat dua tahun dan setelah itu bisa mencalonkan diri lagi tanpa pembatasan periode.
Legislator dengan raihan min. 218 dari total 435 suara di parlemen dengan hak pilih dan enam anggota tanpa hak pilih (mewakili Guam, Puerto Rico, Samoa Amerika, Kep. Mariana Utara dan Kep. Virgin AS dan Washington DC), ditetapkan sebagai pemenang.
Masalahnya, baik McCarthy mau pun pesaingnya dari Partai Demokrat, Hakeem Jeffries dalam pemungutan suara tidak ada yang berhasil mengantongi di atas 200 suara, padahal diperlukan minimal 218 suara untuk diakui sebagai ketua DPR.
Mc Charty berasal dari Dapil Negara Bagian California sulit menembus batas minimal perolehan suara akibat perpecahan internal di tubuh Fraksi-PR karena dianggap tidak berhaluan konservatif.
Sejumlah nama di F-PR seperti Matt Gaetz, Lauren Boebart, Scolt Perry dan Andi Biggs yang dikenal berhaluan ultrakonservatif bergabung dalam Kaukus Kebebasan, mensyaratkan hanya mendukung Mc Carthy jika diberi posisi strategis di parlemen. McCarthy menolaknya.
Sampai 14 putaran pemilihan, Kaukus Kebebasan tetap ngotot menolak memberikan suara pada McCarthy, bahkan mereka saling memilih sesama anggota sehingga suara F-PR terpecah belah.
Pada putaran ke-15, kubu McCarthy berhasil membujuk 20 anggota kelompok ultrakonservatif di luar enam anggota lainnya untuk mencoblos McCarthy sehingga berhasil mengantongi 216 suara.
Guna menghindari pemungtan suara berlarut-larut, DPR pun memutuskan, ketua terpilih adalah yang memenangi suara terbanyak, tidak harus mencapai 218 seperti ketetapan semula, sedangkan F-PD walau solid, hanya mampu meraih 212 suara.
Kemenangan McCarthy juga tidak lepas dari kritikan oleh lawannya, seperti dilontarkan oleh anggota F-PD dari Texas, Veronica Escobar yang mengatakan:
“Para Republikan mengurus diri saja tidak becus, apalagi mengurus negara empat tahun ke depan, “ ujarnya. Sebaliknya, Mc Carthy berkilah, alotnya pemungutan suara justeru menunjukkan, prosesnya dilakukan dengan teliti dan tidak tunduk pada tekanan kelompok tertentu.
“Keptusan penting harus diambil dengan serius dan memikirkan konsukensi jangka panjangnya, “ kilah Mc Carthy.
Pembelajaran yang bisa diambil bagi politisi di negeri ini, pemungutan suara ketua parlemen di AS berjalan alot, karena baik kalangan internal fraksi maupun partai oposisi berusaha keras memenangi kontestasi agar ide, gagasan atau haluan politik partai mereka terkait pengelolaan negara dijalankan pemerintahan.
Di negeri ini, jujur saja, heboh atau alotnya pemilihan anggota atau ketua DPR sering terkait persoalan di bawah permukaan yakni “money politics” atau transaksional buat kepentingan pribadi atau kelompok, walau semua berteriak “atas nama rakyat, bangsa dan negara”. (AP/ns)




