ORANG sipil bisa pegang senjata berizin, bangganya minta ampun, seperti Kebo Ijo dalam sejarah Singosari, ketika pegang keris Empu Gandring. Orang sipil bawa senjata api, cenderung bawaannya jadi panas melulu. Maka terjadilah kisah memalukan di Gandaria City Jakarta. Pensiunan dokter RSPAD lepaskan tembakan pistol gara-gara uang parkir Rp 20.000,- Pak dokter ini berasumsi, parkir mobil dinas militer bebas dari bea.
Anggota TNI, memegang senjata itu sudah jamak, karenanya tentara disebut juga angkatan bersenjata. Tapi tak ada militer petentang-petenteng dengan senjatanya. Dia sangat berhati-hati membawanya, karena setiap peluru yang dilepaskan harus dipertanggungjawabkan. Bahkan bila senjata sampai hilang, bisa terkena sanksi berat. Maka bagi anggota TNI, senjata itu laksana nyawa sendiri.
Karena tuntutan tugas dan hobinya, orang sipil bisa juga diizinkan pegang senjata api dengan jenis dan kaliber tertentu. Anggota Perbakin (Persatuan Menembak dan Berburu Indonesia) misalnya, dia pegang senjata api yang jenisnya berbeda (laras panjang), karena gunanya memang hanya untuk berburu. Mereka punya juga “senjata” laras pendek, tapi itu sudah dari sononya, pemberian Tuhan sejak lahir.
Direktur utama, menteri, pejabat pemerintahan, pengusaha utama, komisaris, pengacara, dan dokter; adalah orang sipil yang dibolehkan pegang senjata api. Meski telah memiliki, tidak boleh disandang secara terbuka seperti anggota TNI. Karena hanya boleh digunakan dalam keadaan darurat, untuk membela diri. Izinnya pun tidak mudah, karena harus ada rekomendasi dari Kapolda setempat.
Tidak hanya itu, kondisi kejiwaan pemohon juga diperiksa dengan ketat, kalem atau temperamental. Tetapi, meski sudah diperketa sedemikian rupa, ada saja orang sipil pegang senjata api untuk dijadikan gagah-gagahan, buat nakut-nakuti orang. Bahkan ada juga, fotokopi perizinan senjata api dipamer-pamerkan ke orang sekedar untuk membawa dia. Padahal aslinya bukan untuk dia. Namanya juga fotokopi.
Ini mengingatkan tokoh Kebo Ijo dalam sejarah Singosari. Ketika dititipi keris Empu Gandring oleh Ken Arok, oleh Kebo Ijo keris tersebut dipamarkan ke mana-mana, padahal akhirnya mencelakan diri sendiri. Sebab ketika keris tersebut kembali dicolong Ken Arok untuk membunuh Tunggul Ametung, Kebo Ijolah yang didakwa sebagai pembunuhnya. Walhasil dia dibunuh juga oleh keris yang sama.
Agaknya dokter Anwari ini menjadi Kebo Ijo di era modern. Sesungguhnya yang pegang mobil dinas militer itu istrinya, karena menjadi dokter di RSPAD. Beberapa hari lalu bersama sopir mengunjungi Gandaria City, Kebayoran Lama. Saat pulang mobilnya kena cas parkir Rp 20.000.- Sopir membayarnya, tapi dokter Anwari marah-marah pada tukang parkir. Kenapa mobil dinas militer ditarik parkir? Sepengetahuan pak dokter, semuanya bebas dari bea.
Petugas parkir sudah menjelaskan aturan sebenarnya, tapi dokter Anwari malah marah. Tembakan pistol menyalak meski ke atas. Tukang parkir tentu saja ketakutan, bersimpuh ampun-ampun takut bila peluru dari “benda dingin” itu mampir ke jidatnya. Gara-gara terlalu emosi, pak dokter harus membayar mahal. Dia ditahan di Polsek Kebayoran Lama, bahkan istrinya pun jadi terbawa-bawa karenanya.
Ketika membawa senjata api untuk kebanggaan dan ugal-ugalan, bawaannya jadi panas melulu; macem-macem gua tembak lu! Bayangkan, orang sipil malah menjadi sok militeris. Padahal karena TNI tak boleh menakut-nakuti rakyat, yang militer malah menjadi sipilis, maksudnya: bergaya seperti orang sipil. (Cantrik Metaram)





