JAKARTA, KBKNews.id – Kurangnya kedekatan emosional antara orang tua dan anak dapat menjadi faktor yang mendorong anak terlibat dalam tindakan kriminal. Psikolog Universitas Gadjah Mada (UGM), Novi Poespita Candra, S.Psi., M.Si., Ph.D., mengingatkan orang tua untuk lebih peka terhadap tanda-tanda awal anak berpotensi terlibat dalam perilaku menyimpang, salah satunya ketika anak mulai bergaul dengan kelompok berisiko.
Menurut Novi, tanda yang perlu diwaspadai adalah ketika anak mulai sulit berinteraksi atau menjalin komunikasi dengan keluarga, khususnya dengan orang tua.
“Biasanya yang paling menonjol adalah mereka sudah mulai sulit melakukan kebersamaan dengan keluarga dan berkomunikasi dengan keluarga,” ujar Novi dikutip dari Antara.
Anak yang rentan juga cenderung kesulitan memfokuskan diri pada kegiatan yang positif dan bermanfaat untuk jangka panjang.
Novi menjelaskan bahwa salah satu pemicu anak melakukan kekerasan berasal dari tingginya kadar hormon stres (kortisol) yang berdampak pada penurunan fungsi otak bagian prefrontal cortex, yaitu bagian yang bertugas dalam pengambilan keputusan dan nalar.
Ia menyebutkan bahwa dalam ilmu psikologi, kekerasan biasanya dipicu oleh bagian otak yang disebut amygdala—bagian otak primitif yang merespons ancaman dengan tiga reaksi dasar: melawan, diam, atau lari.
“Pilihan manusia biasanya menyerang balik, diam atau lari. Maka ketika dia dipancing emosinya, mengalami tekanan, dia merespon dengan otak reptilnya, bukan otak nalarnya,” jelasnya.
Novi mencontohkan perilaku tawuran remaja sebagai bentuk kekerasan yang terjadi akibat lemahnya kemampuan bernalar.
Meskipun mereka sadar bahwa tindakan tersebut salah, ketidakmampuan mengendalikan emosi membuat mereka gagal memperhitungkan konsekuensinya.
Untuk membantu anak keluar dari situasi ini, Novi menyarankan agar anak diberi aktivitas fisik yang rutin seperti olahraga. Kegiatan fisik dapat membantu melepaskan stres yang menumpuk dalam tubuh.
Selain itu, Novi juga menekankan pentingnya membangun komunikasi yang sehat dengan orang-orang terdekat. Menurutnya, dialog yang berkualitas dapat melatih kemampuan berpikir anak secara rasional sehingga mereka lebih mampu mengatasi tekanan dengan pikiran jernih, bukan emosi.





