
KUTUPALONG – Masooka berbaring di tempat tidur di pusat kesehatan yang dikelola pemerintah Bangladesh di Kutupalong. Dia terlihat pucat karena darahnya terkuras setelah melahirkan bayi pertamanya.
Ibu mertuanya dan suaminya, terlihat sangat bahagia, mereka menatap bayi yang tidur dengan tenang di samping ibunya.
Suami Masooka, Shafi Alam, 24 tahun, merasa bahagia dan lega karena proses persalinan berjalan tanpa ada gangguan. “Saya terkejut dengan pelayanan yang baik di sini,” katanya.
Mereka belum menamai bayi itu. Shafi Alam mengaku belum sempat memikirkan nama bayinya, karena ia sekeluarga berjuang mati-matian untuk memenuhi kebutuhan dasar sejak mereka tiba di distrik Cox’s Bazar, Bangladesh 16 September lalu.
Mereka lari dari Dhankhali di Maungdaw, Myanmar karena menghindari pembantaian tentara Myanmar.
Mereka termasuk di antara 436.000 Rohingya yang melarikan diri dari Myanmar. Sejak 25 Agustus lalu mereka mendapat tindakan brutal dari militer Myanmar.
Ratusan desa Rohingya telah dibakar, dan lebih dari 400 Rohingya telah terbunuh dalam sebuah tindakan kekerasan yang oleh PBB disebut “kasus pembersihan etnis”.
Badan-badan bantuan telah berjuang untuk memberikan perlindungan, makanan dan perawatan kesehatan kepada orang-orang yang putus asa dari Rohingya, mereka tidak diakui sebagai warga negara oleh pemerintah Myanmar, meskipun mereka telah tinggal di sana selama beberapa generasi.
United Nations Population Fund (UNFPA) memperkirakan bahwa dari hampir 150.000 wanita Rohingya yang berusia reproduktif (15-49 tahun), sekitar 24.000 orang hamil dan menyusui yang ikut mengungsi.
Bantuan tenaga bidan terus berdatangan, banyak dari mereka yang tergabung dalam UNFPA, datang untuk membantu ibu hamil dan ibu muda, di pusat kesehatan seperti Kutupalong.
Tania Aktar bergabung dengan Puskesmas Kutupalong pada bulan Februari sebagai bidan. Dia mengatakan sejak masuknya orang Rohingya, pusat tersebut telah menerima lebih banyak pasien.
“Kami telah melakukan 12 persalinan dalam 21 hari terakhir,” kata tenaga medis berusia 24 tahun itu.
“Beberapa wanita Rohingya, yang datang untuk melahirkan, mereka tidak makan berhari-hari, tidak memiliki pakaian yang layak, dan tidak memiliki uang untuk membeli kebutuhan lain.
“Mereka benar-benar tidak berdaya. Banyak dari mereka telah melahirkan bayi di pinggir jalan,” katanya.
“Pusat kesehatan, yang juga melayani penduduk lokal yang membutuhkan layanan melahirkan dan juga pascakelahiran,” kata Tania.
Wanita hamil seperti Arefa Begum harus berlari berhari-hari untuk lolos dari kematian. Dia hamil sembilan bulan. Dia tiba di Bangladesh pada tanggal 13 September dari Bolibazar di Maungdaw.
“Saya harus berjalan bermil-mil dan tidak dapat beristirahat, saya tidak memiliki makanan dan hujan membuat keadaan menjadi lebih buruk, saya sangat lelah, saya tidak bisa bernafas,” cerita Arefa, yang kaki dan tangannya bengkak.
“Tidak ada tempat dimana saya bisa merasa aman kembali di Myanmar. Saya merasa lebih baik di sini,” tambahnya.
Arefa berada dalam antrian untuk berkonsultasi dengan bidan di Kutupalong. “Kami tidak memiliki akses ke fasilitas kesehatan di Myanmar,” katanya. “Saya senang berada di sini.”
Suaminya Serajul Mustafa, juga sepakat dengannya dia untuk mengungsi meski ada kendala uang.
Bidan lain, Najma Akter, 24 tahun, mengatakan bahwa obat-obatan dan layanan di puskesmas diberikan secara gratis. “Kami mengunjungi masyarakat di dalam kamp pengungsian dan menasihati mereka untuk memanfaatkan layanan kami untuk melahirkan yang aman,” katanya.
“Di posko pengungsian, ibu-ibu memiliki tingkat gizi rendah, mereka menderita anemia, mereka tidak memiliki akses terhadap perawatan kesehatan sebelumnya,” tambah Najma.
Najma juga mengatakan, bahwa pusat kesehatan juga memberikan layanan untuk pasien umum, termasuk anak-anak dan orang tua.
Asharu yang berusia dua puluh tahun juga datang untuk check-up. Bayinya lahir enam hari yang lalu. Dia mengeluh sakit badan dan pusing.
Dia mengatakan tidak ada fasilitas kesehatan seperti ini di desanya di Sabraguna di Maungdaw. “Senang dengan layanan di sini.”
Dr Mohammad Ashraful Alam, Petugas Lapangan dengan UNFPA, mengatakan bahwa organisasinya telah menyediakan 68 bidan di Cox’s Bazar, termasuk pusat kesehatan Kutupalong.
“Kami menjalankan empat kamp medis sekarang dan berencana untuk membuka empat lagi,” katanya.
Priya Marwah, Koordinator Respon Kemanusiaan di UNFPA, mengatakan bahwa mereka berusaha memperkuat layanan tersebut dengan bantuan pemerintah dan mitra lokal.
“Kami menyediakan layanan dan pasokan ke penyedia layanan kesehatan baik klinik yang dikelola oleh pemerintah maupun klinik yang dikelola oleh IOM atau klinik bergerak di bawah UNFPA yang dikelola oleh mitra lokal kami,” katanya.
“Dua hari yang lalu kami menemukan seorang wanita yang melahirkan di pinggir jalan pada tengah malam. Dia dibawa ke salah satu pusat kesehatan kami dimana bidan kami dapat merawatnya dan bayinya.
“Cerita seperti ini terjadi setiap hari.”
Di kamp pengungsi Thaingkhali, sekitar 100 wanita hamil telah berkonsultasi dengan bidan di klinik keliling yang dikelola oleh UNFPA.
Priya dari UNFPA mengatakan bahwa mereka juga berfokus pada higiene menstruasi dan mendukung pasangan dalam membangun Women Friendly Spaces, yang menawarkan dukungan konseling dan psikososial kepada banyak wanita yang mengalami trauma.
“Mitra yang bekerja dengan kami di Women Friendly Spaces telah melihat kasus ini, di mana perempuan menjadi sasaran kekerasan berbasis gender, bukan hanya kekerasan seksual,” katanya.
Tapi dia mengaku perlu meningkatkan operasi untuk menjangkau lebih banyak wanita.
Tania, bidan, mengatakan perempuan Rohingya sangat lemah karena memiliki begitu banyak anak.
“Kami telah menemukan banyak ibu dengan 7-14 anak karena mereka tidak memiliki pengetahuan tentang keluarga berencana,” katanya.
“Kami mencoba berbicara dengan mereka dan meyakinkan mereka untuk ikut program keluarga berencana karena itu baik untuk kesehatan mereka.” – Al Jazeera




