PBB Minta Jangan Paksa Pengungsi Rohingya Pindah ke Pulau Terpencil

Ilustrasi kamp pengungsi Rohingya di Cox Bazar dalam kondisi tidak sehat/ AFP

BANGLADESH – Kepala pengungsi PBB (UNHCR) mengatakan pada Senin (25/9/2017) bahwa Bangladesh tidak boleh memaksa Muslim Rohingya yang telah meninggalkan Myanmar untuk pindah ke kamp-kamp di sebuah pulau terpencil.

Komisaris Tinggi UNHCR Filippo Grandi mengatakan Perdana Menteri Sheikh Hasina telah menyebutkan rencana relokasi tersebut saat mereka bertemu di bulan Juli. Sudah ada 300.000 orang Rohingya di kamp-kamp di dekat perbatasan di Cox’s Bazar sebelum masuknya yang terakhir dimulai.

Tapi dia berkeras bahwa setiap langkah dari kamp ke pulau Bhashan Char, juga dikenal sebagai Thengar Char, harus sukarela kemauan dari para pengungsi.

“Kita tidak bisa memaksa orang untuk pergi ke tempat itu. Jadi pilihan untuk jangka menengah, katakanlah – saya tidak mau bicara tentang jangka panjang – harus juga sesuatu yang bisa diterima orang yang pergi kesana, “katanya, dilansir AFP.

“Perserikatan Bangsa-Bangsa telah memuji Bangladesh karena telah menerima Rohingya, yang melarikan diri dari sebuah tindakan militer di Myanmar. Kami telah meminta bantuan internasional untuk pihak berwenang” ujarnya.

Kepala UNHCR mengatakan agensinya siap membantu rencana pulau yang akan menjadi tempat penampungan baru bagi Rohingya.

Pulau kecil di muara sungai Meghna dapat dilalui perahu satu jam dari Sandwip, pulau berpenghuni terdekat, dan dua jam dari Hatiya, salah satu pulau terbesar di Bangladesh.

Pemerintah telah menugaskan angkatan laut dengan membuat pulau tersebut siap ditempati Rohingya. Dua helipad dan sebuah jalan kecil telah dibangun.

Pihak berwenang pertama kali mengusulkan untuk mengevakuasi Rohingya di sana pada tahun 2015, karena kamp pengungsi di Cox’s Bazar terlalu penuh.

Namun rencananya nampaknya ditangguhkan tahun lalu di tengah laporan bahwa pulau silty, yang baru muncul dari laut pada tahun 2006 ini, seringkali tidak dapat dihuni karena banjir pasang.

Advertisement