KAIRO, KBKNews.id – Sebanyak tujuh delegasi kemanusiaan asal Indonesia yang tergabung dalam aksi konvoi darat global, Global Sumud Flotilla (GSF) 2.0, dilaporkan masih tertahan di sebuah wilayah di Libya. Memasuki hari kelima, Kamis (21/5/2026), rombongan yang membawa bantuan kemanusiaan menuju Gaza tersebut terjebak tanpa kepastian.
Berdasarkan laporan langsung dari perwakilan delegasi Indonesia, Imam Alfaruq, posisi perkemahan saat ini berada di wilayah tandus berjarak sekitar 65 kilometer dari Kota Sirte.
“Lokasi sangat tandus. Tidak ada sumber air bersih atau air permukaan, yang ada hanya air laut yang berjarak sekitar 2 kilometer dari sini,” kata Imam.
Hingga saat ini, izin untuk melintasi wilayah Libya Timur guna melanjutkan perjalanan darat menuju perbatasan Gaza belum juga dikeluarkan oleh pemerintah setempat. Komite GSF Internasional dikabarkan telah mencoba membangun komunikasi dengan Perdana Menteri Libya Timur, namun belum mendapatkan respons resmi.
Ketidakpastian di tengah gurun ini mulai memicu tekanan psikologis luar biasa, baik bagi panitia maupun peserta. Kondisi fisik para relawan perlahan merosot akibat cuaca ekstrem, suhu udara sangat menyengat di siang hari dan anjlok hingga di bawah 15 derajat Celsius pada malam hari.
Sementara itu, sembilan aktivis GSF yang sempat ditahan Israel dilaporkan segera bebas. Mereka akan dibebaskan melalui Istanbul, Turki.





