Konflik Rusia vs Ukraina Ancam Ekonomi Global

Perang dengan kekuatan militer antara Rusia dan Ukraina meluas menjadi perang kekuatan energi yang bisa berujung krisis energi dunia.

SUDAH 15 hari mesin perang raksasa Rusia melancarkan invasi ke Ukraina, negara tetangga dan dulunya juga sesama negara sempalan Uni Soviet, namun belum ada tanda-tanda konflik berdarah itu akan berakhir.

Yang jelas, tekanan int’l terhadap Rusia terutama dari negara-negara Barat berupa sanksi ekonomi selain bakal membebani Rusia, juga berdampak pada perekonomian global terutama akibat melonjaknya harga energi (minyak, gas dan batubara).

Amerika Serikat menghentikan impor energi dari Rusia, begitu pula Uni Eropa yang selama ini menikmati 60 persen pasukan gas dan juga minyak dari negeri Beruang merah itu, bahkan Jerman membekukan proyek pipanisasi Northstream senilai 11 milyar dollar AS.

Pipa sepanjang 1.200 Km membentang dari Rusia ke Jerman itu semula diharapkan akan mempersingkat aliran gas ke Eropa Barat tanpa melalui Ukraina yang dilakukan selama ini.

Yang juga cukup serius, Rusia juga dikucilkan dari sistem transfer dana global melalui mekanisme SWIFT (Society for Worldwide Interbank Financial Telecommunication), sehingga bank-bank atau perusahaan Rusia tidak memiliki akses ke sistem tersebut.

Sejumlah negara juga melarang pemberian koridor udara untuk dilintasi pesawat-pesawat komersial Rusia, sementara tekanan terhadap Rusia juga dilakukan sejumlah negara lain seperti Australia, Jepang, Taiwan dan Korea Selatan.

Sebaliknya, Presiden Rusia Vladimir Putin juga tidak kalah gertak, mengeluarkan dekrit larangan ekspor bahan mentah serta sejumlah komoditas lain dalam upaya melindungi industri di dalam negerinya.

Kenaikan Harga Minyak Mentah

Konflik Rusia-Ukraina juga langsung melambungkan harga minyak mentah di pasar global. Jenis Brent pada Rabu lalu (9/3) sempat bertengger pada 130,38 dolar AS per barrel dan West Texas Intermediate 125,58 dolar AS.

Badan Energi Int’l (IEA) merespons kenaikan harga minyak dunia dengan rencana melepaskan sebagian cadangan strategisnya, sementara Uni Emirat Arab akan memompa produksinya di atas 800.000 barel per hari dari 400.000 barel yang disepakati bersama Rusia.

Neraca perdagangan migas Indonesia sebagai net importir juga bakal  tertekan akibat naiknya harga minyak global, sehingga tentu saja bakal memperlebar defisit neraca perdagangan migas.

Rakyat Indonesia sendiri saat ini tengah menghadapi kenaikan sejumlah harga komoditas pokok seperti minyak goreng, daging sapi dan kedelai dan cabai akibat persoalan berbeda.

Ditambah lonjakan harga minyak mentah akibat konflik Rusia-Ukraina, padahal juga belum lepas dari himpitan dampak pandemi Covid-19 dan juga menyongsong Ramadhan dan Idul Fitri, agaknya rakyat Indonesia harus siap-siap lebih mengencangkan lagi ikat pinggangnya.

Covid-19 belum berlalu, krisis ekonomi sudah menghadang pula.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement