Konflik Yaman Belum ada Tanda-tanda Usai  

Perang saudara di Yaman sejak Maret 2015 yang telah menewaskan 10.000 orang tak kunjung usai akibat ego politisi lokal dan juga perebutan hegemoni kawasan antara Iran, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (foto: Reuters)

KOALISI Arab Saudi yang terdesak dalam konflik Yaman di belakang kubu rezim petahana Presiden Abdurrabuh Mansour Hadi  masih berupaya mengajak pihak-pihak bertikai untuk fokus melawan milisi Houti dukungan Iran.

Eskalasi konflik meluas di negara miskin Yaman setelah koalisi Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) turun tangan sejak Maret 2015 guna membantu Mansour Hadi yang digulingkan lawannya, Abdullah Ali dukungan milisi suku Houthi yang berada di belakang Iran.

Tak ayal lagi, konflik Yaman yang semula sebatas antara elite lokal, meluas menjadi perang proksi, perebutan hegemoni kawasan antara Iran dan Arab Saudi yang juga dipicu persoalan sektarian antara aliran Syiah (Iran) dan Sunni (Saudi).

Iran juga diduga memasok rudal pada milisi Houthi di Yaman yang beberapa kali diluncurkan ke kota-kota di Arab Saudi termasuk menyasar Istana al-Yamana di Riyadh 19 Desember tahun lalu.

Pasca kematian Abdullah Hadi beberapa pekan lalu, Arab Saudi dan UEA pun pecah kongsi, dimana sebagian loyalisnya membentuk Dewan Transisi Selatan (STC) yang didukung UEA dan sebagian lain memihak pada Arab Saudi.

Dalam pertempuran sejak pekan lalu, jet-jet tempur UEA membombardir posisi kelompok pro-Arab Saudi , sehingga milisi STC leluasa mengepung lawannya, bahkan roda pemerintah di ibukota, Aden terancam mandek karena PM Ahmed bin Dager dan sejumlah menterinya terkurung di istana.

 

Sempat bersatu

Yaman sempat bersatu pada 1990 di bawah Presiden Abdullah Saleh yang semula menjabat presiden Yaman Utara dan Wapres Ali Salim al-Beidh selaku presiden Yaman Selatan.

Saleh dan al-Beidh “pecah kongsi” pada 1994 dan terlibat konflik yang dimenangkan Saleh, sehingga ia menjadi penguasa tunggal sampai dilengserkan di tengah Revolusi Arab 2011.

Saleh menyerahkan kepemimpinan Yaman pada Wapres Mansour Hadi yang didukung koalisi Arab Saudi dan al-Qaeda, namun berkat dukungan Houthi (dan Iran) ia kemudian berhasil mengambil alih kembali Sana’a.

Belum ada yang kalah atau menang di tengah konflik Yaman selain menciptakan kesengsaraan bagi sekitar 17 juta dari total 27 juta penduduk akibat blokade darat, laut dan udara oleh koalisi Arab pimpinan Arab Saudi.

Sekitar 10.000 orang tewas, tujuh juta penduduk mengalami kelaparan dan hampir satu juta diantaranya terancam wabah kolera akibat buruknya prasarana sanitasi yang   porak-poranda akibat perang.

Penderitaan rakyat Yaman akibat ambisi elite setempat dan juga ego elite kawasan agaknya belum akan segera berakhir. (AFP/Reuters/ns)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement