Konflik Yaman, Makin Ruwet

Salah satu fraksi yang berperang di Yaman. Konflik Yaman memasuki babak baru setelah UEA dan Arab Saudi yang semula mendukung rezim petahana Presiden Abdu Raboo Mansour Hadi melawan milisi Houthi dukungan Iran, "pecah kongsi" dan saling gempur.

KOALISI antara Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) untuk mendukung rezim petahana pimpinan Presiden Abdu Raboo Mansour Hadi di Yaman yang “putus kongsi” mulai saling gempur merebutkan kota pelabuhan strategis, Aden.

Milisi Dewan Transisi Selatan (STC) didukung pesawat-pesawat tempur UEA dilaporkan melancarkan serangan mendadak ke bagian kota pelabuhan Aden dan kota Zinjibar (29/8), mengakibatkan 40 anggota pasukan loyalis Mansour Hadi tewas.

Saudi dan UEA semula berkoalisi mendukung Mansour Hadi melawan milisi Houthi yang didukung oleh Iran pada 2015, namun UEA kemudian hengkang dari koalisi setelah Mansour Hadi juga bermitra dengan kelompok Ichwanul Muslimin yang dilarang karena dianggap sebagai kelompok teroris oleh UEA.

STC berhasil mengusir pasukan Mansour Hadi dari kota Aden 10 Agustus lalu, namun kemudian sebagian wilayah di sekitar kawasan istana di kota tersebut yakni Distrik Dar al-Saad dan Sheik Usman berhasil diambil alih lagi oleh pasukan Mansour Hadi.

Kota Aden sendiri adalah ibukota sementara pemerintah Yaman yang diakui internasional, sementara ibukota Sanaa masih dikuasai oleh milisi Houthi yang didukung Iran.

Pengamat politik Yaman, Ansi al-Tamimi kepada TV Al-Jazeera mengemukakan, agaknya terjadi kesalah pahaman antara pasukan UEA dan Saudi di lapangan karena setelah “pecah kongsi”, kedua kekuatan sebenarnya sudah berbagi wilayah kekuasaan. Saudi menguasai Provinsi Shabwah, Hadramaut dan Al-Mahrah di wilayah timur laut Yaman, sementara STC yang didukung UEA memegang kendali atas provinsi Lahij, Abyan dan Aden di bagian barat Yaman.

Tentu saja, milisi Houthi dukungan Iran sementara bisa berleha-leha menyaksikan seterunya, pasukan koalisi Saudi dan UEA saling serang.

Saudi adalah kekuatan yang cukup disegani di kawasan Timur Tengah. Negara ini mengalokasikan belanja militer 67,6 milyar dollar (sekitar Rp963 triliun) atau ke-3 terbesar di dunia pada 2018 setelah AS (649 milyar dollar AS atau Rp9.254 triliun) disusul China (250 milyar dollar atau Rp3.654 triliun), menyalip posisi Rusia (66,3 milyar dollar atau sekitar Rp 928,2 triliun) pada posisi ke-4.

Walau tidak memiliki senjata pemusnah massal, AB Saudi menduduki ranking ke-9 kekuatan militer dunia, memiliki 259 ribu personil, didukung alutsista canggih dari AS seperti pesawat-pesawat F-15 Eagle seri terbaru, tank M-1 Abrams, artileri M-109 dan heli serang Apache.

Sebaliknya, UEA walaupun hanya memilki 60 ribu personil, angkatan perangnya juga memiliki alutsista yang modern. AU-nya paling tidak mengoperasikan 80 unit pesawat tempur F-16 Fighting Falcon buatan AS dan Mirage 2000 Perancis.

Siapapun yang bertempur untuk kepentingan masing-masing, baik Saudi, UEA mau pun Iran yang berebut hegemoni kawasan atau milisi Houthi dan rezim Mansour Hadi yang berebut kekuasaan, yang sengsara tetap rakyat Yaman.

Konflik Yaman telah merengut lebih 10 ribu nyawa dan menyebabkan lebih sepertiga dari 29 juta rakyat terancam kelaparan. (AP/AFP/ns)

Advertisement