Paling tidak, sudah 37 orang tewas, ratusan luka-luka sejak April lalu dan lebih 1.000 orang ditangkap di tengah aksi protes dan gelombang kerusuhan menentang rencana Presiden Venezuela Nicolas Maduro yang akan menyusun konstitusi baru.
Kubu penentang curiga, perubahan konstitusi yang pernah dilakukan pendahulunya, Presiden Hugo Chavez pada 2009 hanyalah cara akal-akalan Maduro untuk mengalihkan krisis ekonomi dan demi melanggengkan kekuasaannya.
Kelompok oposisi didukung massa mendesak agar Maduro yang berkuasa sejak 2013 segera menggelar pilpres karena menilai keterpurukan ekonomi dan kekacauan politik di negeri itu terjadi akibat salah urus dan kepemimpinannya yang lemah.
Sebaliknya, Maduro berdalih, kubu oposisi berkomplot menumbangkan kekuasaannya melalui aksi jalanan dan ia berencana membentuk majelis konstituante untuk merumuskan konstitusi baru dan mengamandemen konstitusi warisan Presiden Chavez.
Chaves pasca revolusi sosial 1999 menyusun konstitusi anti kapitalis, dimuat dalam buku biru kecil yang dianggap sebagai buku terpenting bagi rakyat di negara itu selain kitab suci.
Maduro juga mengajak kubu oposisi untuk bergabung dalam pembahasan konstitusi baru, namun ditolak, karena menurut ketuanya, Henrique Capriles, langkah tersebut hanya taktik atau manuver Maduro untuk menghindari digelarnya pilpres yang bakalan tidak akan dimenangkannya.
Maduro, bergeming
Sejauh ini Maduro bergeming atas sikapnya, walau delapan negara Amerika Latin yakni Argentina, Brazil, Kolombia, Kosta Rika, Guatemala, Honduras, Meksiko dan Paraguay menyesalkan tindakan represif berlebihan yang dilakukan rezimnya menghadapi mahasiswa dan massa yang berseberangan.
Dengan kondisi terisolasi dari dunia luar dan tetangga-tetangganya, agaknya kejatuhan rezim Maduro tinggal menghitung hari, mengingat bertumpuk-tumpuknya persoalan yang dihadapi selain krisis politik.
Dengan tingkat inflasi mencapai 700 persen, dalam kondisi terisolasi, kelangkaan barang terutama sembako dan obat-obatan serta cekaknya cadangan devisa, diperkirakan akan sulit bagi rezim pemerintah Maduro bertahan.
Aksi penjarahan dilaporkan terjadi di kawasan perdagangan dan pabrik di kota Valencia, sebelah barat ibukota, Caracas (4/5). Para penjarah menggunakan kantong kantong plastik besar untuk mengangkuti barang jarahan dari toko-toko atau di pasar swalayan setempat.
Ironis, negara produsen minyak bumi anggota OPEC ini salah urus dalam pengelolaan perekonomian negara, terutama tidak menginvestasikan hasil kekayaan minyaknya dalam jangka panjang.
Ekonomi Venezuela langsung “terjun bebas” saat harga minyak bumi di pasaran global anjlok pada awal 2016 ampai ke level 25 dollar AS per barrel.
Sementara sebagian besar rakyat sengsara – ada yang mengais-ngais sisa-sisa makanan di tempat-tempat sampah, munculnya kerusuhan dan penjarahan di sana-sini – Maduro malah mengambil aksi represif dan mengisolasi negaranya dari dunia luar.
Maduro memilih aksi yang menyulut kekacauan dengan menunda pemilihan gubernur, memenjarakan tokoh-tokoh oposisi, bahkan mempersenjatai geng-geng untuk mengintimidasi rakyat.
Jika pemerintah tidak lagi dipercayai rakyat, agaknya kejatuhan tinggal menungu waktu. (AP/Reuter/NS)





