spot_img

Konsultan Belanda: Seluruh Tanggul di Jakarta Tidak Mampu Hadapi Banjir Rob

JAKARTA – Hampir 40 persen permukaan tanah wilayah Jakarta lebih rendah jika dibandingkan dengan permukaan laut, sehingga Jakarta rawan banjir.

Hal tersebut diungkapkan Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama, dikutip dari Jawapos, Minggu (5/6/2016).

Menurutnya permukaan tanah Jakarta lebih rendah sekitar 1,7 meter dari permukaan air laut. Karena itu, jika permukaan air laut meningkat 2,8 meter, bisa dipastikan, daerah rendah tersebut mengalami banjir yang parah.

”Apalagi, setelah dicek konsultan Belanda, seluruh tanggul kami tidak mampu menghadapi banjir rob,” terangnya.

Maka Gubernur yang akrab disapa Ahok itu mengatakan harus secepatnya dilakukan pembangunan tanggul A NCICD.

Ahok menjelaskan tingginya tanggul mencapai 3,8 meter di atas permukaan laut dengan lebar 5-20 meter. Ketinggian tersebut disesuaikan pemprov dengan kajian dan pengalaman banjir di Jakarta.

Selain itu, ia menyebut DKI beruntung sudah menyelesaikan tanggul di Waduk Pluit. Jadi, banjir di Pluit tidak terlalu parah. Namun, lantaran Pantai Mutiara letaknya paling depan, perlu dibangun tanggul yang lebih tinggi dan kuat.

‘Tidak bisa lagi mengandalkan pompa. Air laut yang tumpah ke Jakarta tetap tidak bisa diatasi,” ucapnya.

Saat ini pembangunan tanggul A, kata Ahok, dalam proses lelang. Pembangunannya tidak hanya dilakukan pemerintah daerah. Pemerintah pusat juga ikut andil. Dia mengaku, sulitnya merelokasi warga di sana menjadi salah satu kendala untuk pembangunan tanggul.

”Kami pindahin karena mau dibuat tanggul di utara Waduk Pluit. Namun, warga marah-marah kepada saya. Padahal, dulu banjir mencapai 2,8 meter. Ditambah air laut 5-8 meter. Kalau mati, yang disalahin siapa?” ujarnya.

Ahok berharap warga mau direlokasi agar mereka juga tidak menjadi korban bencana rob ke depannya.

spot_img

Related Articles

spot_img

Latest Articles