BIMA – Banjir susulan sempat terjadi di Bima, Nusa Tenggara Barat pada Jumat (13/1/2017) dan membuat 1.013 warga Kota Bima mengungsi.
Namun kini menurut Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Nusa Tenggara Barat H Mohammad Rum mereka sudah kembali dari pengungsian karena kondisi dinilai sudah aman.
“Pengungsi semua sudah kembali ke rumah masing-masing sejak Sabtu (14/1),” kata Mohammad Rum, di Mataram, Minggu (15/1/2017).
Ia mengatakan, banjir susulan di Kota Bima, menyebabkan 600 rumah tergenang air disertai lumpur setinggi 50 hingga 100 centimeter.
Ratusan rumah terdampak banjir tersebut tersebar di Kecamatan Rasanae Barat, yakni Kelurahan Paruga 200 rumah, Dara 200 rumah, dan Kelurahan Tanjung 200 rumah.
Banjir susulan tersebut juga menggenangi tiga sekolah, yaitu SDN 55, MTs Padolo, MI Padolo. Akibatnya, proses belajar-mengajar terganggu.
Tim Penanggulangan Bencana juga mendata Puskesmas Paruga ikut terendam air dan berlumpur, sehingga pelayanan kepada masyarakat terganggu.
“Data warga yang mengungsi dan infrastruktur yang terdampak banjir sudah dilaporkan ke Badan Penanggulangan Bencana Nasional untuk ditindaklanjuti,” ucap Mohammad Rum, dikutip dari Antara.
Kota Bima dan empat kecamatan di Kabupaten Bima, Pulau Sumbawa, NTB diterjang banjir bandang pada 21 Desember 2016. Banjir bandang susulan setinggi 1 hingga 3 meter kembali terjadi di Kota Bima, pada 23 Desember 2016.




