Korban terus berjatuhan di Gaza

Hampir seluruh bangunan, sarana dan prasaraa umum termasuk tempat-tempat ibadah aporak poranda dibombardir Israel sejak 8 Oktober 2023.

SUDAH  lebih 43.500 warga Palestina terbunuh sampai 8 Nov. ’24, 70 persen di antaranya  perempuan dan anak-anak dan hampir 100.000 lainnya terluka, namun konflik berdarah antara Hamas dan Palestina sejak 7 Oktober 2023 belum ada tanda-tanda bakal berakhir.

PBB seperti dilaporkan AFP, Jumat (8/11) mengecam banyaknya jumlah warga sipil yang tewas dalam perang di Gaza dan juga berbagai huum internasonal seperti yang dilaporkan oleh Kantor Komisi Tinggi Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (OHCHR).

Serangan mematikan oleh milisi Hamas pada 7 Oktober 2023 yang menewaskan 1.200 warga sipil dan sejumlah serdadu di Israel serta penyanderaan 240-an  orang dibalas dengan serangan brutal dan bombardemen secara sistematis dan masif terhadap Jalur Gaza yang memporakpoandakan wilayah itu.

Bombardemen Israel tak kenal jeda terhadap permukiman Palestina di Jalur Gaza dengan dalih memburu milisi Hamas dianggap sejumlah negara sebagai kejahatan perang, bahkan sebagai aksi genosida.

Karena itu, PBB memperingatkan dan menuntut upaya internasional untuk mencegah kejahatan perang yang kejam dan memastikan akuntabilitas dalam pelaksanaannya.

“Warga sipil di Gaza telah menanggung beban akibat isolasi total awal Gaza oleh pasukan Israel,” kata seorang pejabat PBB, dikutip dari AFP seraya menambahkan, aksi pasukan Israel telah menyebabkan tingkat pembunuhan, kematian, cedera, kelaparan dan wabah penyakit sangat tinggi dibandingkan yang pernah terjadi,” ujarnya

Laporan itu menunjuk pada kegagalan pemerintah Israel yang terus-menerus untuk mengizinkan, memfasilitasi penghancuran infrastruktur sipil, dan pengungsian massal yang berulang.

Misi Israel untuk PBB di Jenewa dengan tegas menolak laporan tersebut, mengecam obsesi bawaan OHCHR dengan menjelek-jelekkan Israel.

Menurut Ajith Sunghay, kepala kegiatan kantor hak asasi manusia PBB di wilayah Palestina, melalui tautan video dari Amman, Gaza saat ini menyisakan puing-puing.

“Dalam distopia kehancuran, mereka (warga sipil Palestina) hidup  dalam kesengsaraan, ketakutan, kelaparan dan lebih satu juta kehilangan tempat berteduh, mengungsi dari kamung halamannya di Jalur Gaza, mencari tempat aman.

Seruan internasional untuk mengakhiri pertumpahan darah di wilayah Gaza sejauh ini dianggap angin lalu oleh para petinggi Israel yang terobsesi mengeliminasi kelompok-kelompok yang dianggap mengancam bangsa dan negara Yahudi itu.

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here