Korut Berulah Lagi

ilustrasi

KEHENINGAN Semenanjung Korea yang terbebas sementara dari hiruk-pikuk propaganda perang antara dua negara serumpun Korea SeLatan dan Korea Utara mulai terusik lagi dengan dilakukannya lagi uji coba senjata oleh Korea Utara.

Ujicoba senjata tersebut adalah pertama kalinya sepanjang 2018 dan sejak berlangsungnya upaya damai di penghujung 2017. Terakhir kali, peluncuran rudal balistik antarbenua, November tahun lalu. Sebelumnya, Korut selalu bergeming atas seruan internasional untuk mengentikan program nuklirnya.

Semula prakarsa damai mulai berbuah, saat pemimpin kedua negara, Presiden Korut Kim Jong Un dan Presiden Korsel Moon Jae-in bersedia duduk di meja perundingan guna mengakhiri status Perang Korea pada 1950 – 1953 yang masih berlaku hingga kini.

Pertemuan pertama Jong Un dan Jae-in berlangsung di kawasan demiliterisasi (DMZ) di Desa Panmunjom 27 April 2018, berlanjut dengan pertemuan di P. Santosa, Singapura, Juni, dihadiri pula oleh Presiden AS Donald Trump dan yang ketiga di Pyongyang, 18 – 22 September.

Jong Un tampak menunjukkan niat seriusnya mewujudkan denuklirisasi di kawasan itu dengan memusnahkan situs ujicoba nuklirnya di Punggye-ri dengan harapan, AS juga mencabut embargo ekonomi yang sangat membebani perekonomian Korut.

Agaknya Presiden Korut itu kesal, AS tetap bergeming melanjutkan sanksi ekonomi karena menganggap masih ada (program nuklir-red) yang disembunyikan oleh Korut.

Tidak diketahui persisnya senjata yag diuji coba, Jumat (16/11), kemungkinan meriam jarak jauh yang sudah lama dikembangkan Korut dan kantor berita Korut KCNA hanya menyebutkan memiliki kemampuan melindungi wilayah negara itu bagai “tembok baja”.

Presiden Jong Un dilaporkan “sangat puas” atas hasil ujicoba yang dinilainya menunjukkan keteguhan hati Korut meningkatkan kemampuan tempurnya.

Deplu AS sendiri menyikapi secara hati-hati tindakan Korut tersebut dengan tetap meyakini, janji yang sudah disepakati oleh Trump dan Jong Un akan dipatuhi.

Program denuklirisasi di Semenanjung Korut dibahas dalam pertemuan Trump dan Jong Un di Singapura, Juni lalu, namun sejauh ini belum ada tindak lanjutnya walau Menlu AS Mike Pompeo sudah berkunjung ke Pyongyang untuk merundingkan detil program tersebut.

Spekulasi muncul mengenai ujicoba senjata tersebut, mulai dari kemungkinan sebagai aksi balasan atas latihan gabungan yang dilakukan Korsel dan AS, signal bagi AS, Korut akan menarik diri dari program denuklirisasi atau sekedar unjuk gigi untuk meyakinkan kalangan militer. (AFP/AP/Reuters/NS)

Advertisement