Korut Siap Lancarkan Serangan Nuklir

Pernyataan Korut terkait izin penggunaan kekuatan nuklir untuk lebih dulu menyerang lawan, menuai reaksi keras dari Korsel.

PEMERINTAH Korea Selatan menilai pernyataan rezim Korea Utara  pekan lalu tentang penggunaan kekuatan nuklir jika negaranya di bawah ancaman int’l atau demi memenangkan perang, sangat provokatif.

Artinya, Korut bisa langsung menyerang dengan arsenal nuklirnya lebih dulu sebagai tindakan preemptive sebelum lawan menggunakan senjata pemusnah massal itu.

Tak hanya menggertak, Korut juga terus melakukan pengayaan nuklir dan uji coba rudal balistik sebanyak 30 kali sepanjang 2022 termasuk rudal balistik antarbenua Hwasong 15 dan Hwasong 17.

Sebaliknya, Korsel, tetangga serumpun dan musuh bebuyutan Korut yang sampai hari ini masih dalam status perang sejak Perang Korea 1951 – 1953 menyebutkan upaya pengayaan nuklir dan uji-uji coba rudal yang dilakukan lawannya sebagai tindakan  “bunuh diri”.

“Selain berhadapan dengan Korsel dan aliansi pertahanannya, berbagai sanksi int’l terhadap Korut tatas  kegiatan pengayaan nuklir dan ujicoba rudal, bakal membuat rakyatnya terisolasi dan makin menderita, “ ujar Jubir Kemenhan Korsel Moon Hong-sik pada harian The Korean Times (13/9).

Negosiasi damai melalui KTT AS, Korsel dan Korut berlangsung di Daerah Bebas Militer Korea (DMZ), Singapura dan Hanoi beberapa waktu lalu namun berakhir dengan kebuntuan.

Jika pecah perang antara keduanya, tentu berimbas tak saja di kawasan Asia Timur, tetapi juga dunia, mengingat seperti terjadi pada Perang Korea lalu, menyeret banyak pihak. Korut didukung AS dan Barat, sebaliknya di belakang Korut ada China dan Rusia.

 Perimbangan militer

Dari segi belanja militer pada 2022, Korut sekitar 4,5 miliar dollar AS (Rp67,05 triliun), kalah jauh dengan Korsel dengan 46,5 miliar dolar (Rp689,9 triliun) atau lebih sepuluh kali lipatnya.

Namun bedanya, Korut ditaksir memiliki 40 hingga 50 hulu ledak  nuklir (warhead) yang sewaktu-waktu bisa diluncurkan denga rudal-rudla balistik untuk melumat Korsel.

Berdasarkan catatan Global Firepower, Korsel menempati urutan ke-6 kekuatan militer global, dibandingkan Korut yang bertengger pada urutan ke-30.

AB Korsel berkekuatan 625-ribu personil aktif plus3,75 juta cadangan, sedangkan Korut dengan 1,9 juta personil aktif ditambah 1,32 juta cadangan.

Di darat, Korsel diperkuat 2.624 tank, sebagian buatan AS seperti Abrams M1A atau produk lokal Black Panther K-1 dan K-2, 13.990 kendaraan lapis baja,   581 peluncur roket, sebaliknya Korut mengoperasikan 5.895 tank (T-34, T-62,      T-72), 4.114 kendaraan lapis baja (a.l. BTR-50, BTR-60, BTR-70), semua eks- Uni Soviet, 1.298 artileri dan  1.510 peluncur roket.

AU Korsel berkekuatan  1.595 pesawa seperti 159 pesawat tempur buatan AS F-15 Eagle dan F-16 Fighting Falcon seri terbaru serta F-35 Super Lightning II, 390-an pesawat multi peran seperti T-50 Golden Eagle buatan lokal serta 739 helikopter termasuk Apache AH-64 buatan AS.

Selain ada sekitar 33.000 personil AS yang ditempatkan di Korsel, guna menangkal serangan rudal balistik Korut, Korsel juga dilengkapi sistem Pertahanan Udara Ufuk Tinggi (Terminal High Altitude Areal Defence – THAAD), Sistem Aegis dan rudal anti rudal Patriot (semua buatan AS).

Sebaliknya, AU Korut  mengoperasikan 349 pesawat, antara lain MiG-17, MiG-19, Mig-29 buatan pennggalan Uni Soviet serta 20-an helikopter (MI-4 dan AU MI-6 serta Mi-24).

Sementara AL Korsel mengoperasikan  234 kapal perang,a.l. 12 destroyer, 11 korvet, 18 fregat, 22 kapal selam dan 111 kapal patroli, sebaliknya Korut dengan 450 kapal perang, a.l.n lima fregat, 35 kapal selam dan sekitar 200 kapal patroli.

Perang antara dua negara serumpun itu, jika dijadikan opsi, tentu hanya menciptakan kesengsaraan rakyatnya dan juga masyarakat dunia yang ikut terkena imbasnya.

 

 

 

Advertisement