Korut Uji Coba Rudal Lagi

Parade HUT ke-73 Korut (12/9) ditandai dengan parade tentara mengenakan hazmat lengkap menandai keseriusan negara itu melawan Covid.

DI TENGAH fokus masyarakat int’l mengatasi pandemi global Covid-19 yang sudah memapar sekitar 225 juta dan menewaskan lebih 4,6 juta  penduduk dunia (sampai 12 Sept.), Korea Utara dilaporkan sukses menguji coba rudal balistiknya.

Pengamat Korut agaknya terkecoh, karena tidak seperti biasanya, HUT ke-73 negara komunis yang serba tertutup itu tanpa diikuti parade  yang biasanya menunjukkan taring militer dengan memamerkan rudal-rudal jelajah buatannya, tank-tank dan artileri berat.

Acara HUT ke-73 Korut yang digelar di Pyongyang, Jumat lalu (9/9)  menurut Sky News dihadiri Pemimpin Tertinggi Korut Kim Jong-un, sementara barisan tentara dan pekerja, mengenakan seragam hazmat berwarna oranye cerah, lengkap tanpa menyandang senjata.

Kemungkinan rezim Korut hendak menyampaikan pesan bahwa negaranya serius menangani pandemi Covid-19 walau sejauh ini pemerintahnya belum mengakui adanya kasus-kasus penyebaran penyakit akibat virus SARS-CoV-2 itu.

Kesulitan Ekonomi

Korut dilaporkan sedang berupaya bangkit dari keterpurukan ekonom dan gagal panen akibat banjir baru-baru ini serta akibat tutupnya tapal batas dengan China di tengah pandemi Covid-19 dan sanksi embargo ekonomi dari AS dan Uni Eropa.

Situasi tersebut yang membuat banyak pihak tidak menduga, Korut masih mampu melanjutkan uji coba rudal-rudal jelajah balistiknya yang  mengancam negara-negara lawan terutama Korea Selatan, Jepang dan tentu saja Amerika Serikat.

“Pengembangan rudal memberikan perlindungan strategis yang menjamin keamanan negara dengan untuk menangkal manuver-manuver pasukan musuh, “ demikian pernyataan KCNA.

Sebaliknya Komando Indo-Pasifik AS pun merespons uji rudal jarak jauh yang digelar Korut, Minggu (12/9) lalu dengan menyebutkan, program pengembangan militer Korut merupakan ancaman bagi negara tetangganya serta komunitas internasional.

“AS akan terus emantau situasi dan berkonsultasi dengan sekutu dan mitranya serta meneruskan komitmen untuk membuat pertahanan Korsel dan Jepang tetap solid, “ demikian isi pernyataan Komando Indo-Pasifik AS seperti dilansir AFP.

AS menempatkan sekitar 28.500 anggota tentara AS di Korsel dan menggelar sistem pertahanan udara THAAD (Terminal High Altitude Areal Defence) serta sistem rudal anti rudal Aegis guna menghadapi ancaman rudal Korut.

Dua negara serumpun, Korsel dan Korut masih dalam status perang sejak akhir Perang Korea (1953) dan terus saling ancam dan propaganda, walau agaknya perang tidak akan pecah dalam waktu dekat ini.

Propaganda permusuhan antara Korut dan Korsel agaknya hanya sebatas untuk meramaikan pemberitaan media.

 

 

 

 

 

 

Korut Uji Coba Rudal Lagi

 

DI TENGAH fokus masyarakat int’l mengatasi pandemi global Covid-19 yang sudah memapar sekitar 225 juta dan menewaskan lebih 4,6 juta  penduduk dunia, Korea Utara dilaporkan sukses menguji coba rudal balistiknya.

 

Pengamat Korut agaknya terkecoh karena tidak seperti biasanya, HUT ke-73 negara komunis yang tersisa saat ini tanpa diikuti parade  yang biasanya menunjukkan taring militer dengan memamerkan rudal-rudal jelajah buatannya, tank-tank dan artileri berat.

 

Acara HUT ke-73 Korut yang digelar di Pyongyang, Jumat lalu (9/9)  menurut Sky News dihadiri Pemimpin Tertinggi Korut Kim Jong-un, sementara barisan tentara dan pekerja, mengenakan seragam hazmat berwarna oranye cerah, lengkap tanpa menyandang senjata.

 

Korut dilaporkan sedang berupaya bangkit dari keterpurukan ekonom dan gagal panen akibat banjir baru-baru ini serta akibat tutupnya tapal batas dengan China di tengah pandemi Covid-19 dan sanksi embargo ekonomi dari AS dan Uni Eropa.

 

Situasi tersebut yang membuat banyak pihak tidak menduga, Korut masih mampu melanjutkan uji coba rudal-rudal jelajah balistiknya yang  mengancam negara-negara lawan terutama Korea Selatan, Jepang dan tentu saja Amerika Serikat.

 

“Pengembangan rudal memberikan perlindungan strategis yang menjamin keamanan negara dengan untuk menangkal manuver-manuver pasukan musuh, “ demikian pernyataan KCNA.

 

 

Sebaliknya Komando Indo-Pasifik AS pun merespons uji rudal jarak jauh yang digelar Korut, Minggu (12/9) lalu dengan menyebutkan, program pengembangan militer Korut merupakan ancaman bagi negara tetangganya serta komunitas internasional.

 

“AS akan terus emantau situasi dan berkonsultasi dengan sekutu dan mitranya serta meneruskan komitmen untuk membuat pertahanan Korsel dan Jepang tetap solid, “ demikian isi pernyataan Komando Indo-Pasifik AS seperti dilansir AFP.

 

AS menempatkan sekitar 28.500 anggota tentara AS di Korsel dan menggelar sistem pertahanan udara THAAD (Terminal High Altitude Areal Defence) serta sistem rudal anti rudal Aegis guna menghadapi ancaman rudal Korut.

 

Dua negara serumpun, Korsel dan Korut masih dalam status perang sejak akhir Perang Korea (1953) dan terus saling ancam dan propaganda, walau agaknya perang tidak akan terjadi dalam waktu dekat ini.

 

Propaganda permusuhan antara Korut dan Korsel gaknya sebatas untuk mramaikan pemberitaan media.

 

 

 

 

 

Advertisement