TAHUN 1970-an lagu anak-anak “Helly gug gug” yang dinyanyikan Chicha Koeswoyo sangat populer di semua penjuru kota, termasuk Solo. Dan kini Walikota Solo Gibran Rakabuming sungguh gelisah, karena kuliner daging anjing di kotanya semakin marak. Pak Wali ingin mengubahnya, sehingga warga kota Solo tidak lagi mengkonsumsi daging anjing. Sebagai kota budaya sekaligus kota batik, kuliner daging anjing sunguh merusak citra. Gibran tak mau publik nantinya meledek kotanya menjadi: Solo gug gug kemari gug gug …..ayo lari-lari!
Saat Ir. Joko Widodo menjadi Walikota Surakarta (2005-2012), slogan kota: Solo the spirit of Java, telah berhasil membuat kota Surakarta dikenal di kancah internasional, bukan sekedar kota budaya karena ada Kraton Kasunanan dan Kadipaten Mangkunegaran. Jokowi membangun kotanya nyaris tanpa gejolak, karena lewat pendekatan kejawaannya. Jokowi pun berhasil menyabet penghargaan sebagai walikota terbaik ke-III sedunia pada 2013, ketika sudah menjadi Gubernur DKI Jakarta.
Di bawah kepemimpinan Jokowi pula Solo dikenal sebagai Kota Batik. Dan siapapun Walikotanya, dari dulu Solo terkenal sebagai kota kuliner. Thengkleng Pasar Klewer, srabi Notosuman, sega liwet Keprabon, kupat tahu Singosaren, gudeg ceker Margoyudan dan sate Sate Kere Yu Rebi Sriwedari. Menu-menu ini bikin lidah bergairah, tapi harganya tetap murah.
Tapi ada lagi “sate jamu” yang sering bikin turis domestik terjebak. Dikiranya sate daging kambing atau sapi untuk jamu, ternyata menunya daging anjing alias gug gug. Bagi suku tertentu, makan daging anjing memang hal biasa, tapi bagi orang kebanyakan, bukan sebuah kepatutan. Apa lagi orang Islam, jangankan makan dagingnya, air liur si gug gug itu juga najis hukumnya dan mugholadzoh lagi.
Bagi orang Solo sendiri memang sudah maklum, karena mencari warung “sate jamu” memang bukan hal sulit. Ternyata dari jaman dulu, sate atau gule anjing juga sudah ada karena satu paket dengan hobi orang ndem-ndeman alias mabok. Cuma sekarang ini jumlah warung semacam ini semakin banyak saja. Kabarnnya, sampai tahun 2018 saja, sudah terdapat 100 warung “sate jamu”. Bila per warung membutuhkan 12 ekor anjing sehari, berarti 1.200 anjing terbantai dan masuk perut pelanggan.
Di masa Walikota Jokowi, mengurangi populasi warung “sate jamu” dengan mewajibkan setiap warung menuliskan “sate guk guk” di plang atau tendanya. Hal ini untuk menghindari konsumen terjebak pada menu yang tak diharapkan. Dengan cara demikian omset pemilik warung menu ulam segawon (daging anjing) memang menurun, tapi bukan berarti habis!
Giliran sekarang Walikota Gibran yang pusing bagaimana membasmi kebiasaan makan daging anjing itu. Walikota sebelumnya, FX Hadi Rudyatmo, mengaku sulit, karena menyangkut periuk para pemilik warung. Dan kini Walikota Gibran telah berwacana untuk melarang warga kotanya jualan daging guk guk. Bukan masalah halal-haramnya, tapi kebiasaan makan daging anjing itu bisa merusak citra Solo menuju kota internasional. Berbagai event nasional dan internasional sering diselenggarakan di Solo, masak jadi tergangggu gara-gara warung gukguk. Seniman Butet Kertareja pun jika dengar aka misuh, “Asu…..!”
Untuk membuat payung hukumnya tidak sulit, karena sudah ada cantolannya instruksi Gubernur Jateng tentang hal itu. Tinggal bersama DPRD Surakarta Perda itu akan digodok. Masalahnya, para mantan pemilik warung guk guk itu mau dikemanakan? Mereka perlu pendampingan. Jika sekedar pelatihan untuk alih profesi, jika tanpa modal ya sama saja bohong. Mereka perlu diberi modal, pinjaman atau BLT dengan misalnya Kartu Solo …..apa gitu.
Jika Gibran berhasil menghilangkan kebiasaan warga Solo jualan dan makan daging anjing, siapa tahu ini jadi modal atau jejak rekam positip menuju Pilgub DKI 2024 atau Pilpres 2029 kelak. Sebab jika gagal dan populasi warung guguk di kotanya tambah marak, jangan kaget jika nanti ada yang meledeknya seperti lagunya Chicha Koeswoyo dulu, “Solo guk guk guk, kemari guk guk, ayo lari lari….!” (Cantrik Metaram)





