Penyakit Jantung, “Pembunuh Senyap”

Ilustrasi Serangan jantung sering disebut pembunuh senyap atau silent killer, karena tanpa gejala, dan harus ditangani segera, jika tidak bisa menimbulkan kerusakan jantung, bahkan berujung maut.

BANGSA Indonesia baru saja kehilangan tokoh, cendekiawan dan  pemikir Islam Prof. Dr. Azyumardi Azra yang wafat di Kuala Lumpur, Minggu (18/9) akibat penyakit bawaan (komorbid) jantung yang diidapnya.

Mantan Rektor UIN Syarif Hidayatullah 1998 – 2006 itu yang tiba di Kuala Lumpur dalam penerbangan dari Jakarta, Jumat (16/9), langsung dilarikan ke RS Serdang, Selangor setelah mengalami sesak nafas.

Tokoh pemikir aliaran Islam moderat yang mendapat gelar “Sir” dari mendiang Ratu Elizabeth II dari Inggeris (wafat 9/9 lalu dan dimakamkan 19/9) berkat kegigihannya memperjuangkan toleransi antarumat beragama, meninggal akibat sumbatan pembuluh darah jantung yang disebut acute inferior myocardiac infarction.

KBRI di KL menyebutkan, alm. terpapar Covid-19 yang lalu memicu penyakit komorbid jantung koroner, peyebab kematiannya.

Menurut catatan, di Indonesia, penyakit jantung yang menempati ranking kedua setelah stroke, memapar  sekitar 10 persen atau sekitar 27 juta penduduk dengan angka kematian sekitar 140-ribu orang.

Sedangkan menurut catatan Badan Kesehatan Dunia (WH0) pada 2018, tercatat kematian 18,6 juta orang akibat penyakit jantung, dan jumlah bertambah terus, menjadi 20,5 juta orang pada 2020 dan 24,2 juta pada 2030.

Serangan jantung terjadi mendadak, sehingga disebut sebagai “pembunuh berdarah dingin” atau silent killer dan gejalanya tidak khas sehingga acap kali diabaikan penderitanya, padahal jika tidak segera ditangani, bisa menyebabkan kerusakan jantung berujung maut.

Di kampung-kampung, korban serangan jantung sering disebut terkena “angin duduk”, saat korban santai, tiba-tiba “ambruk” dan menghembuskan nafas.

Staf Medik dan Rawat Intensif dan Kegawatan Kardiovaskular FK-UI dan RS Pusat Jantung Nasional Harapan Kita, Siska Suridanda Danny mengungkapkan (Kompas, 20/9), penanganan serangan jantung harus dimanfaatkan secara optimal  dan deteksi dini sangat penting.

Dalam waktu 12 jam yang disebut “periode emas”, ujarnya, pasien harus ditangani, sedangkan penyebabnya adalah penyumbatan  pembuluh darah coroner sehingga penanganan dilakukan dengan mengatasi sumbatan akibat plak di dinding pembuluh darah.

Sekitar 80 sampai 90 persen pasien serangan jantung mengalami gejala nyeri dada hebat yang menjalar ke punggung, leher dan rahang , keringat dingin, sesak nafas dan kehilangan kesadaran.

Sedangkan faktor risikonya a.l. kebiasaan merokok, hipertensi, kolesterol tinggi akibat makan tidak terkontrol, ditambah ada keluarga  yang mengalami riwayat penyakit tersebut.

Bagi warga yang berusia di atas 40 tahun, diharapkan untuk memeriksakan kadar gula, tensi dan kolesterol secara berkala dan segera menghubungi RS terdekat jika muncul gejala serangan jantung.

Jangan sampai terlambat!