
KRISIS ekonomi yang dihadapi dua industri raksasa dunia Amerika Serikat dan Jerman harus diantisipasi dampaknya walau sejauh ini secara makro, perekonomian Indonesia cukup terkendali.
AS masih terperangkap dalam negosiasi yang alot antara Gedung Putih selaku eksekutif dan parlemen yang membuat Undang-undang terkait penetapan pagu utang.
Sementara Jerman yang merupakan motor terdepan perekonomian Uni Eropa (UE), menurut prediksi para pakar keuangan, walau tidak anjlok secara drastis, perekonomian akan stagnan.
Peneliti Institute for Development and Economics and Finance (Indef), Abdul Manap Pulungan kepada Kompas (27/5) mengingatkan, transmisi risiko potensi krisis di AS bisa berdampak pada sektor moneter dan keuangan Indonesia, sedangkan resesi di Jerman dapat menambah beban tekanan ekspor Indonesia.
Dari sisi moneter, lanjutnya, gagal bayar utang AS berpotensi mendorong depresiasi nilai tukar rupiah sehingga pada gilirannya berdampak pada kenaikan imbal hasil (yield) obligasi Indonesia.
“Risikonya, meningkatnya yield, bisa menambah beban APBN, “ ujarnya seraya menambahkan, ia yakin dampak krisis AS dan Jerman terhadap Indonesia masih terkendali.
Sementara itu, hingga Jumat (26/5) Gedung Putih masih bernegosiasi terkait penetapan pagu utang. Menurut jubirnya, Jean Pierre, perundingan antara pemerintah dan parlemen lancar dan produktif dan keduanya sepakat mengambil keputusan paling lambat 1 Juni.
Perdoalan terkait pagu utang merupakan isu serius di AS dimana selama ini pemerintah terus meminjam utang dalam jumlah besar untuk membiayai proyek-proyek pemerintah atau mengucurkan dana untuk negara-nagara mitranya.
Ketua DPR AS dari Partai Republik Kevin McCarthy megemukakan, perilaku seperti itu tidak bisa diterima lagi dan saat dilantik Januari lalu ia mengatakan, AS tidak bisa lagi menandatangani cek kosong.
Salah satu contoh, AS mengucurkan dana total 54 miliar dollarAS untuk membantu negara itu sejak diinvasi oleh Rusia pada 24 Feb. 2022 sehingga membebani pemerintah apalagi di tengah pandemi Covid-19.
Sementara di Jerman, laporan BPS setempat menyebutkan, pendapatan domestik bruto negara itu terkontraksi 0,3 persen dalam triwukan I, 2023 sehingga masyarakat harus mengencangkan aikat pinggang.
“Harga energi yang naik gila-gilaan, memaksa rakyat ngirit, “ kata ekonom Pantheon Macroeconomics, Claus Visteren seperti dikutip CNN.
Menurut catatan, kenaikan harga energi di Eropa termasuk Jerman, terjadi akibat sanksi embargo impor minyak mentah dari Rusia sebagai aksi untuk mendukung Ukraina.
“Ekonomi Jerman perlahan memang pulih dari pandemi Covid-19, namun melonjaknya hara energi akibat Perang Rusia – Ukraina menyebabkan masyarakat menahan diri untuk berbelanja jika tidak benar-benar butuh, “ ujar Vistesen.
Sementara Kanselir Jerman Olaf Scholz meyakini, ekonomi negaranya akan tumbuh seiring naiknya produksi industri perkapalan dan baterai, sebaliknya sejumlah ekonom masih mencemaskan anjloknya ekspor mobil Jerman ke China sampai 24 persen.
Perekonomian dunia gunjang-ganjing, sementara Indonesia yang memasuki tahun politik menjelang Pemilu Serentak 14 Feb. 2024 harus waspada dan cermat mengantisipasinya



