Krisis Kesehatan Sudan, Lebih dari 1.200 Anak Kehilangan Nyawa

Seorang pengungsi Sudan, Mekka (30), bersama anak-anaknya di lokasi penampungan darurat dekat perbatasan Sudan dan Chad, di Koufroun, Chad (11/5/2023). (Foto: ANTARA/REUTERS/Zohra Bensemra)

JENEWA – Lebih dari 1.200 anak telah kehilangan nyawa akibat diduga menderita campak dan malnutrisi di kamp-kamp pengungsi di Sudan. Sementara, menurut laporan dari badan PBB, Selasa (19/9/2023), ribuan anak, termasuk bayi yang baru lahir, berada dalam risiko tinggi untuk meninggal sebelum tahun ini berakhir.

Dalam hampir enam bulan terakhir, konflik yang melibatkan pasukan Sudan dan kelompok paramiliter Pasukan Dukungan Cepat (RSF) telah menyebabkan situasi kesehatan di negara tersebut semakin memburuk.

Hal itu terjadi akibat dari serangan langsung dari pihak-pihak yang terlibat dalam konflik, serta kekurangan tenaga medis dan obat-obatan, demikian dilaporkan oleh PBB.

Dr. Allen Maina, Kepala Kesehatan Masyarakat di Badan Pengungsi PBB (UNHCR), menyampaikan informasi ini dalam pertemuan PBB di Jenewa.

Ia mengungkapkan bahwa sejak Mei, lebih dari 1.200 anak yang berusia di bawah lima tahun telah meninggal di wilayah White Nile.

“Sayangnya, kami prihatin bahwa angka ini mungkin terus meningkat,” katanya.

Badan anak-anak PBB (UNICEF) juga mengkhawatirkan nasib ribuan bayi yang akan lahir di antara 333.000 bayi yang diperkirakan akan dilahirkan hingga akhir tahun ini. Mereka berisiko tinggi meninggal karena kondisi yang memprihatinkan.

“Bayi-bayi ini, bersama dengan ibu mereka, memerlukan layanan persalinan yang andal. Namun, di negara di mana jutaan orang terperangkap dalam konflik atau mengungsi, dan dengan pasokan layanan kesehatan yang sangat terbatas, situasinya semakin memburuk setiap harinya,” kata juru bicara UNICEF, James Elder dalam pertemuan yang sama.

Setiap bulan, sekitar 55.000 anak memerlukan perawatan untuk mengatasi tingkat malnutrisi yang parah di Sudan.

Namun, jumlah pusat gizi yang beroperasi di ibu kota Khartoum sangat sedikit, dengan kurang dari satu pusat gizi per 50 pusat gizi yang diperlukan.

Di wilayah Darfur Barat, hanya satu dari 10 pusat gizi yang masih berfungsi, menurut laporan tersebut.

Advertisement