
MASIH ingat krisis rudal Kuba di era Perang Dingin pada 1962 antara dua kekuatan nuklir globalĀ Amerika Serikat dan Uni Soviet yang nyaris mencitakan malapetaka alam semesta dan umat manusia?
Tensi relasi Rusia, penerus Uni Soviet dan AS memanas lagi akibat lawatan armada laut Rusia terdiri dari empat kapal perang ke Pelabuhan Havana, Kuba selama lima hari sampai Senin (17/6).
Sejumlah kantor Berita Barat menyebutkan, kpal jenis fregat Ā Laksamana Gorshkov, kapal selam nuklir jenis Kazan, kapal tunda, kapal bahan bakar dan Kazan, tiba di perairan Kuba dalam misi muhibah, Rabu (12/6).
āIni ekspresi ikatan persahabatan, persaudaraan dan kerja sama yang solid dan bersejarah antara rakyat, pemerintah, dan AB kita,ā kata Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel saat melakukan kunjungan kehormatan ke fregat tersebut, Minggu (16/6),
Admiral Gorshkov termasuk fregat terbaruĀ Rusia berharga 250 juta dollar AS (sekitar Rp4,1 triliun), panjangnya 135M, lebar 16 M, bobot penuh 5.400 ton dan awak 210 orang serta dipersenjatai a.l. dengan puluhan peluncur rudal jelajah Kalibr, Oniks dan Zircon serta rudal anti kapal selam Otvet.
Sedangkan kapal selam bertenaga nuklir Kazan dengan panjang 139M, lebar 13M berbobot 13.800 ton, diawaki 90 kru, kecepatan sampai 31 knot dan mampu menyelam sampai kedalaman 600M serta diersenjatai a.l dengan puluhan tabung peluncur rudal jelajah hypersonic Oniks dan Kalibr.
Kemhan Kuba mengatakan, kapal-kapal tersebut bukanlah Ā ancaman terhadap kawasan, namun demikian, Pentagon (Kemhan AS) langsung beraksi denganĀ mengirim kapal selamĀ bertenaga nuklir USS Helena ke pangkalan angkatan laut AS di Teluk Guantanamo, sekitar 500 mil (804 kilometer) tenggara dari tempat kapal-kapal Rusia berlabuh untuk memantau kehadiran kapal-kapal Rusia.
Baik Kuba maupun Rusia mengatakan, operasi tersebut āsesuai perjalanan sejarah persahabatanāĀ kedua negara danĀ dalam Ā ākerangka kerja sama internasionalā yang terjalin di antara mereka.
Di tengah eskalasi ketegangan
Langkah Rusia ini terjadi pada saat hubungan antara Washington dan Moskow sedang sangat tegang, beberapa pekan setelah Presiden AS Joe Biden setuju untuk mengizinkan Ukraina menyerang wilayah Rusia menggunakan senjata AS.
Rusia berang karena Washington terus memasuk berbagai senjata canggih ke Kiev untuk melawan pasukannya dan di saat bersamaan ASĀ gencar mengerahkan unit tempur ke negara-negara NATO di Eropa Timur.
Rusia dan Kuba merupakan dua negara sahabat yang memiliki hubungan tegang dengan AS sejak era perang dingin. Kuba sendiri hanya berjarak sekitar 150 kilometer dari perbatasan AS di selatan negara bagian Florida.
AS sendiri telah melihat pengerahan armada kapal perang Rusia tersebut sebagai ancaman, dan langsung merespon dengan mengerahkan kapal selam nuklir USS Helena untuk membuntuti kapal perang Rusia di Kuba.
Di saat hubungan Rusia dan AS ā dua kekuatan militer terbesar di dunia ā terus memanas, akankah kehadiran armada kapal perang Rusia ke Kuba menjadi titik awal āKrisis Rudal Kuba Jilid IIā dimulai?.
Kronologis krisis 1962
Krisis Rudal Kuba terjadi pada 1962 sebagai akibat Perang DinginĀ antaraĀ AS Uni Soviet ā sekarang Rusia – setelah terungkap fakta, AS telah mensponsori serangan ke Teluk BabiĀ milik Kuba,Ā negaraĀ komunisĀ diĀ Laut Karibia.
Meskipun misi AS gagal, penyerbuan tersebut telah memicu kemarahan Soviet selaku pemimpin komunis dunia sekaligus āpelindungā Kuba.
PM Uni Soviet Nikita Khruschev pada Sept. 1962 mengingatkan Presiden ASĀ John F. Kennedy, setiap serangan terhadap Kuba akan dinilai sebagai tindakan perang.
Tidak lama kemudian, Uni Soviet segera menempatkan rudal-rudal berukuran besar dan berhulu ledakĀ nuklirĀ di Kuba yang tentu saja mengancam AS karena daya jangkaunya sampai ke wilayah AS.
Presiden JF Kennedy muncul di muka publik pada 22 Ot. 1962 dan mengingatkan Uni Soviet untuk menarik rudal-rudalnya yang dipasang di Kuba atau AS akan menyerang Kuba. Maka, dimulailah minggu-minggu yang dikenal dengan sebutan āKrisis Rudal Kubaā
Kapal-kapal perang AS mengepung Kuba untuk memaksakanĀ blokade Ā terhadap semua pelayaran milik kuba, sementara pesawat-pesawat pengebom ditempatkanĀ di Florida yang berdekatan dengan Kuba.
Setelah negosiasi yang alot, keduanya mencapai kesepakatan pada tanggalĀ 28 OktoberĀ 1962, Uni Soviet akhirnya mengalah bersedia memindahkan senjata nuklirnya di Kuba, sebaliknya AS berjanji tidak akan menyerang Kuba.
Kehadiran empat kapal perang dari Armada Utara Rusia di Kuba pekan laluĀ menarik perhatian para analis global yang melihatnya sebagai Ā aksi unjuk kekuatan Moskow yang merupakan pukulan terbaru terhadap hegemoni AS.
Namun dengan keluarnya keempat kapal perang Rusia dari perairan Kuba tanpa insiden dengan AS (Senin, 17/6), juga tidak berlanjut dengan saling gertak antara kedua raksasa nuklir itu, agaknya krisis telah berlalu.
Kejadian tersebut tampaknya hanya sekedar gimik-gimik politik level global dan pemimpin kedua negara adidaya itu tentunyaĀ sadar, perang nuklir jika sampai pecah, hanya membuat āyang kalah jadi arang, yang menang jadi abuā.
Dengan kekuatan nuklir dan daya rusaknya berlipat ganda dibandingkan yang dimiliki keduanya pada 1962 (AS dengan 5.044 hulu ledak nuklir dan Rusia 5.580 buah) , dunia bakal hancur lebur jika perang nuklir tak terhindarkan.
(sumber: kantor-kantor berita transnasional/NS)




