Kuba di Ambang Kolaps

Tampak warga Havana ngntri membeli roti. Kehidupan bertambah parah setelah AS memperkatat sanksi ekonomi termasuk ke negara yang memasok minyak ke Kuba. Januari lalu (foto: Havana Times)

KUBA dilaporkan berada di ambang kelumpuhan total setelah Amerika Serikat (AS) memperketat blokade minyak terhadap negara kepulauan berpenduduk 11 juta jiwa itu, termasuk mengenakan sanksi bagi negara yang tetap memasok minyak ke negara kepulauan di Laut Karibia itu.

Pemerintah Kuba seperti dilaporkan AFP dan Al Jazeera (11/2)  terpaksa membatasi penjualan bahan bakar dan memutus aliran listrik selama berjam-jam setiap hari, sehingga melumpuhkan kehidupan sehari-hari warga.

Di Bandara, halte bus tampak kosong, sementara warga beralih menggunakan kayu dan batu bara untuk memasak, menjalani hidup dengan pemadaman listrik hampir sepanjang hari di tengah krisis ekonomi, diperburuk oleh kebijakan pemerintahan AS di bawah Presiden Donald Trump dalam beberapa minggu terakhir.

Krisis ini semakin memuncak setelah Venezuela, mitra politik dan ekonomi utama Kuba, “jatuh” ke tangan AS bulan lalu.

Penangkapan Prsiden Venezuela Nicolas Maduro oleh pihak Washington benar-benar memukul pasokan energi Havana.

Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel telah memberlakukan pembatasan darurat ketat, mulai dari pengurangan jam kerja kantor hingga penjualan bahan bakar di tengah ancaman perubahan rezim dari AS.

Wakil Perdana Menteri Kuba Oscar Perez-Oliva Fraga tampil di televisi pemerintah, Jumat (6/2) mengumumkan langkah-langkah darurat untuk menjaga layanan dasar negara sambil mengelola sumber daya bahan bakar yang terbatas.

Berbagai pembatasan

Perusahaan-perusahaan milik negara Kuba akan beralih ke sistem kerja empat hari seminggu. Transportasi antar provinsi dipangkas, fasilitas pariwisata utama ditutup, jam sekolah dipersingkat, dan persyaratan kehadiran tatap muka di universitas dikurangi.

“Bahan bakar akan digunakan untuk melindungi layanan penting bagi penduduk dan kegiatan ekonomi yang sangat diperlukan,” kata Perez-Oliva, dikutip dari Aljazeera, Minggu (8/2)

“Ini adalah peluang dan tantangan yang kami yakin akan kami atasi. Kami tidak akan runtuh,” sambungnya.

Pemerintah menyatakan akan memprioritaskan ketersediaan bahan bakar untuk layanan penting – kesehatan masyarakat, produksi pangan, dan pertahanan, serta mendorong pemasangan energi terbarukan berbasis tenaga surya.

Pemerintah juga akan memprioritaskan pengalihan energi ke wilayah produksi pangan tertentu dan mempercepat penggunaan sumber energi terbarukan, sambil mengurangi kegiatan budaya dan olahraga, serta mengalihkan sumber daya ke sistem peringatan dini negara.

Pada Minggu, Kuba memberitahu maskapai penerbangan bahwa mereka akan menangguhkan penyediaan bahan bakar pesawat selama satu bulan.

Mulai Senin (9/2), maskapai penerbangan yang terbang ke dan dari Kuba telah diberitahu bahwa mereka tidak akan dapat mengisi bahan bakar di sana, dikutip dari AFP.

Akibatnya, pesawat yang beroperasi pada rute jarak jauh dari Kuba kini diharuskan melakukan pemberhentian tambahan setelah meninggalkan negara itu untuk mengisi bahan bakar.

Air France mengatakan, penerbangannya akan mengisi bahan bakar di tempat alternatif lain di Karibia.

Dampak sanksi AS

Puluhan tahun sanksi ekonomi ketat AS terhadap Kuba, telah menghancurkan ekonomi dan mengisolasinya dari perdagangan internasional.

Kuba bergantung pasokan minyak pada sekutunya seperti Meksiko, Rusia, dan Venezuela, namun, setelah pasukan AS menangkap Nicolas Maduro, Washington memblokir pengiriman minyak Venezuela ke Kuba.

Presiden AS Donald Trump bahkan mengatakan pemerintah Kuba di ambang runtuh dan di bawah pemerintahannya, Washington telah mengalihkan fokusnya ke Belahan Bumi Barat, yang ingin didominasinya.

Ancaman bagi AS 

Presiden Trump Januari lalu menandatangani perintah eksekutif yang menyebut Kuba sebagai ancaman terhadap keamanan nasional dan mengenakan tarif pada negara mana pun yang menjual atau memasok minyak ke Kuba.

Tekanan lebih lanjut terhadap pemerintah Meksiko dilaporkan menyebabkan stok minyak di Kuba mencapai titik terendah sepanjang sejarah.

“Sepertinya ini adalah sesuatu yang tidak akan mampu bertahan. Kuba adalah negara yang gagal,” kata Trump kepada wartawan bulan lalu.

Awal bulan ini, Kementerian Luar Negeri Kuba mengeluarkan pernyataan yang menyerukan dialog.

“Rakyat Kuba dan rakyat AS memperoleh manfaat dari keterlibatan yang konstruktif, kerja sama yang sah, dan hidup berdampingan secara damai,” bunyi pernyataan kementerian.

“Kuba menegaskan kembali kesediaannya untuk mempertahankan dialog yang saling menghormati dan timbal balik, yang berorientasi pada hasil nyata, dengan pemerintah AS, berdasarkan kepentingan bersama dan hukum internasional,” tambah pernyataan itu. Tujuan Trump di Kuba masih belum jelas.

Namun, para pejabat AS telah beberapa kali menyatakan bahwa mereka ingin melihat perubahan pemerintahan.

“Kami ingin melihat rezim di sana berubah. Itu tidak berarti bahwa kami akan melakukan perubahan, tetapi kami ingin sekali melihat perubahan,” kata Menteri Luar Negeri Marco Rubio.

Rubio, seorang keturunan Kuba, adalah salah satu tokoh paling berpengaruh dalam pemerintahan Trump. Pada 31 Januari, Trump mengatakan kepada wartawan, masalah Kuba tidak harus menjadi krisis kemanusiaan.

“Saya pikir mereka mungkin akan datang kepada kita dan ingin membuat kesepakatan. Sehingga Kuba akan bebas kembali,” ujarnya.

Menurutnya, Washington akan membuat kesepakatan dengan Kuba, tetapi tidak memberikan kejelasan tentang apa maksud dari kesepakatan tersebut.

Berapa lama Kuba dapat bertahan? Hingga bulan lalu, Meksiko dilaporkan tetap menjadi pemasok minyak utama Kuba.

Meksiko mengirimkan hampir 44 persen dari total impor minyak, diikuti oleh Venezuela  33 persen, sementara hampir 10 persen berasal dari Rusia dan sebagian kecil dari Aljazair.

Menurut Kpler, sebuah perusahaan data, pada tanggal 30 Januari, Kuba hanya memiliki cadangan minyak yang cukup untuk bertahan selama 15 hingga 20 hari dengan tingkat permintaan saat ini.

Saat ini, Kuba membutuhkan sekitar 100.000 barel minyak mentah per hari.

Runtuhnya Kuba yang merupakan seteru utama AS diperkirakan menjdi titik balik peta geopolitik di kawasan ini. (Aljazeera, AFP/ns)

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here